Di balik lekuk perbukitan dan hamparan 26 pulau di Kecamatan Kangayan, Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, tersembunyi sebuah oase bening yang memancar dari bawah tanah hutan Perhutani.

Warga Desa Jukong-jukong mengenalnya sebagai Olbhek—sebuah mata air alami yang bertahun-tahun hanya dimanfaatkan warga setempat sebagai tempat pemandian umum dan pelepas dahaga di tengah rimbunnya wanawisata.

Kini, gemericik air jernih di bawah naungan pepohonan hutan itu tak lagi menjadi rahasia lokal.

Berkat kebersamaan warga, kelompok sadar wisata, serta keterbukaan akses jalan yang kini bisa dilintasi bus, Olbhek bersolek menjadi salah satu wanawisata unggulan yang membawa harapan baru bagi perekonomian warga kepulauan Madura.

Jejak Mata Air Hutan yang Meretas Keterisolasian

Menjangkau kawasan Olbhek dahulu membutuhkan perjuangan ekstra melintasi jalur meliuk di Pulau Kangean.

Namun, pembenahan infrastruktur Jalan Jate Lanjang telah memangkas waktu tempuh menjadi sekitar 20 menit saja dari pusat kecamatan.

Akses kendaraan besar seperti bus yang kini bebas melintas menjadi pertanda meretasnya keterisolasian wilayah kepulauan ini.

Daya tarik utama Olbhek yang diperkenalkan dalam Madura Night Vaganza (MNV) 2026, terletak pada paduan alami antara wana (hutan) dan muara air sejuk.

Wisatawan yang berkunjung dapat merasakan kesegaran pemandangan hijau yang berpadu harmonis dengan bentang garis pantai Kangayan sepanjang 174 kilometer.

“Alhamdulillah untuk menuju ke Olbhek sejak beberapa waktu kemarin sudah bisa dilalui bus, dan kondisi jalannya sudah bagus,” tutur Camat Kangayan, Nurullah, menceritakan perubahan akses ke lokasi wisata tersebut.

Integrasi Hutan, Mata Air, Mangrove, dan Pesisir

Pengembangan Olbhek tidak berhenti pada kolam pemandian sejuk di tengah hutan.

Rencana besar terus dirajut untuk menghubungkan seluruh potensi lanskap ekosistem Kangayan dalam satu garis penjelajahan.

Jalur trekking berupa jembatan kayu melintasi hutan mangrove tengah disiapkan untuk menyambungkan kawasan mata air langsung menuju pesisir pantai.

Langkah ini dirancang agar pengunjung tak sekadar berenang, tetapi juga mendapatkan pengalaman edukasi lingkungan yang utuh: menikmati kanopi hutan, menyusuri vegetasi bakau, hingga menyaksikan biru samudra di pulau-pulau tak berpenghuni.

“Selaku pemerintah kecamatan kami mendukung penuh, dan di 2027 kita juga mendapat dukungan dari pemerintah kabupaten untuk mengembangkan tempat, termasuk nantinya akan dibuat jembatan mangrove dari area Olbhek menuju pantai,” ungkap Nurullah.

Denyut UMKM Ibu-Ibu Desa di Ujung Kepulauan

Geliat pariwisata di Olbhek berjalan seiring dengan kebangkitan usaha rumahtangga di sembilan desa se-Kecamatan Kangayan, mulai dari Timur Jangjang, Batuputih, hingga Saobi.

Olahan kuliner lokal, kerajinan tangan, dan produk herbal buatan kelompok ibu-ibu PKK desa kini menemukan etalase pemasarannya sendiri.

Kehadiran destinasi ini membuktikan bahwa pengelolaan potensi alam berbasis masyarakat mampu menciptakan efek ganda (multiplier effect).

Dari sebuah sumber mata air di dalam hutan, roda ekonomi warga terpencil kini berputar semakin kencang.

“Produk UMKM yang saya bawa dari desa se-Kecamatan Kangayan adalah semua UMKM binaan TP PKK desa. Olbhek menjadi pintu masuk promosi wisata, sementara UMKM menunjukkan penguatan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Wajah Baru Pariwisata Bahari Sumenep

Kisah Olbhek adalah cermin dari semangat warga kepulauan dalam merawat kekayaan alamnya.

Dari tempat pemandian sederhana, kawasan ini bertransformasi menjadi laboratorium ekosistem yang mempertemukan kedamaian hutan dan keindahan pesisir.

Di tengah laut kepulauan Sumenep, Wanawisata Olbhek kini berdiri tegak—siap menyapa para penjelajah dengan kesegaran air alaminya serta kehangatan senyum warga Kangayan. (Diolah dari InfoPublik)