Di balik jernihnya perairan Selat Bali di Desa Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur, tersembunyi kebun-kebun indah di bawah permukaan laut.
Di atas meja-meja penyangga khusus yang tertanam di dasar air, ribuan koloni terumbu karang warna-warni tumbuh dengan anggun.
Dari kebun bawah laut inilah, keindahan ekosistem maritim Nusantara dirawat sekaligus dirajut menjadi komoditas bernilai tinggi yang menghiasi akuarium-akuarium di belahan bumi lain.
Keindahan tersebut bukan hasil dari pengerukan karang liar, melainkan buah manis dari ketekunan budidaya yang konsisten.
I Ketut Sukandi, pemilik PT Srikandi Aquarium, telah merintis jalan ini sejak 2011.
Budidaya dilakukan di fasilitas perusahaan di Jalan Situbondo-Banyuwangi, Desa Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi.
Selama 15 tahun terakhir, ia membuktikan bahwa potensi kekayaan laut dapat dipanen secara berkelanjutan tanpa harus merusak kearifan dan kelestarian alamnya.
Bertaruh dengan Gelombang di Kebun Laut
Merawat 29 jenis koral hidup di alam terbuka tentu bukan perkara mudah.
Setiap bulan Agustus, ketika angin timur berembus kencang dan gelombang laut Banyuwangi mengganas, Ketut dan para pekerjanya harus bekerja ekstra keras memperkuat konstruksi meja-meja budidaya agar tidak terbalik dihantam arus.
“Seperti bulan Agustus ini, gelombang cukup besar. Meja-meja budidaya di laut bisa bergoyang. Karena itu harus diperkuat agar tidak terbalik,” ujar I Ketut Sukandi saat pelepas ekspor koral di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jumat (28/8/2026).
Ketangguhan mengakali tantangan alam itu terbayar lunas. Setiap tahunnya, fasilitas budidaya di Kalipuro ini mampu memproduksi hingga 80 ribu koloni koral hidup.
Tanpa mengambil satu pun koral dari terumbu karang alami, seluruh hasil panen difokuskan untuk memenuhi tingginya permintaan pasar internasional yang tak pernah surut.
Pelepasan ekspor dilakukan Menteri Perdagangan, Budi Santoso, yang menyebut Kementerian Perdagangan mempunyai Perwakilan Perdagangan, Atase Perdagangan, dan ITPC (Indonesia Trade Promotion Center) di 33 negara.
“Tugas mereka mencarikan buyer atau mempromosikan produk-produk Indonesia. Salah satunya produk UMKM yang ada di Banyuwangi,” ujarnya.
Menjangkau 20 Negara dan Membuka Peluang Lokal
Kini, koral budidaya dari pesisir Banyuwangi tersebut telah rutin terbang setiap 8 hingga 10 hari sekali menuju 20 negara di Benua Asia, Amerika, hingga Eropa.
Pelepasan ekspor senilai USD2.500 ke Amerika Serikat, menjadi bukti bahwa kualitas koral lokal mampu bersaing ketat dan memiliki harga yang relatif stabil di pasar global.
Dukungan jaringan perwakilan perdagangan di luar negeri pun terus dikucurkan agar produk unggulan daerah ini kian dikenal dunia.
Namun bagi Ketut, impian terbesarnya adalah melihat lebih banyak warga lokal Banyuwangi yang berani terjun menjadi pembudidaya koral.
Bagi masyarakat pesisir, laut bukan sekadar tempat mencari ikan, melainkan ladang hijau yang jika dirawat dengan bijak, mampu memberikan kesejahteraan tanpa merenggut keindahannya. (Naskah diolah dari InfoPublik)

Tinggalkan Balasan