Di atas tanah liat yang beralaskan kearifan lokal, jeritan duka sempat menghentak Desa Adat Sade di Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat..

Musibah kebakaran tidak hanya melahap puluhan dinding bambu dan atap alang-alang, tetapi juga melumpuhkan matapencaharian 320 pelaku pariwisata serta 189 kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari denyut tradisi.

Namun, di antara sisa-sisa puing bangunan yang menghitam, tekad warga Suku Sasak untuk menjaga arsitektur leluhur tidak pernah ikut padam.

Bagi warga Sade, rumah adat bukan sekadar dinding peneduh hujan dan panas. Setiap lekuk Bale Beleq, lumbung alang, hingga alat tenun kayu tradisional adalah denyut sejarah dan identitas yang diwariskan lintas generasi.

Ketika aktivitas pariwisata terhenti seketika, jemari para ibu penenun tak sabar untuk kembali menari di atas benang, dan para tetua adat bersiap menegakkan kembali tiang-tiang kayu Sasak yang autentik.

Membangun Kembali Tanpa Mengikis Tradisi

Harapan untuk bangkit mewujud nyata dalam kunjungan lapangan dan rapat koordinasi yang dipimpin oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana pada Kamis (27/8/2026).

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana didampingi pejabat daerah dan tokoh adat meninjau kondisi masyarakat serta puing bangunan pascakebakaran di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, NTB, Kamis (27/8/2026). Foto: Kemenpar

“Kami dari Kementerian Pariwisata bersama Poltekpar juga membantu, kami akan rapatkan dengan Pemda tentang bagaimana memulihkan kembali dan membangun kembali dan tentu sama-sama melibatkan masyarakat. InsyaAllah kita bisa berkolaborasi,” kata Menpar Widiyanti saat berbincang bersama Kepala Adat dan Masyarakat Sade.

Bersama jajaran Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, serta tokoh adat setempat, disepakati bahwa rekonstruksi fisik Sade akan mengedepankan keterlibatan masyarakat adat secara penuh.

“Kami tidak akan menghilangkan nilai tradisional dari bentuk rumah kami di sini. Matur tampiasih atas bantuan yang datang, semoga kami bisa membangun rumah tradisional kami seperti semula,” ujar Amak Pani, warga Desa Adat Sade.

Proses pemulihan tidak hanya berfokus pada pembangunan kembali 75 unit rumah adat dan 69 artshop yang terbakar, tetapi juga menyusun Master Plan Rekonstruksi yang adaptif.

Teknologi modern seperti sistem proteksi kebakaran terintegrasi dan embung air darurat akan dipasang dengan estetik agar menyatu dengan wujud fisik desa tanpa merusak karakter tradisionalnya.

Merajut Ekonomi dan Menjelang Helat Dunia

Langkah cepat pemulihan jangka pendek juga langsung menyentuh urusan perut dan mata pencaharian warga.

Penyediaan dapur umum, bimbingan penanganan trauma bagi anak-anak, hingga penyaluran bantuan alat tenun kayu diberikan agar para perajin dapat segera kembali berproduksi secara bertahap.

Selain rumah tinggal, pembangunan museum sementara dan masjid targetnya tuntas menjelang ramainya kunjungan wisatawan pada ajang balap dunia MotoGP di Mandalika.

Ketika alat tenun kembali berbunyi dan rumah-rumah beratap alang-alang berdiri megah kembali, Desa Adat Sade terbukti bukan sekadar destinasi wisata, melainkan simbol ketangguhan budaya yang pantang menyerah oleh ujian zaman. (Naskah diolah dari Kemenpar)