Alunan irama musik dug-dug Jagad Sari bertaut merdu dengan derap langkah ratusan penari di sepanjang Jalan KH Hasan Genggong hingga Patung Sapi di Jalan Sunan Kudus Kota Probolinggo.
Warna-warni busana daerah dan hiasan kreasi daur ulang bergerak gemulai menyusuri rute parade, menyihir ribuan pasang mata yang memadati pinggir jalan.
Di Kelurahan Sukoharjo, peringatan hari jadi daerah tak sekadar perayaan di atas kertas, melainkan pesta kerakyatan bertajuk Asoka Carnival 2026.
Sebanyak 600 warga tumpah ruah menumpahkan energi kreatif mereka.
Parade seni yang diinisiasi oleh masyarakat setempat ini menjelma menjadi panggung terbuka tempat tradisi, kepedulian lingkungan, serta usaha kecil bergerak bersama saling menghidupkan.
Sentuhan Tangan Kader PKK Bikin Gaun Daur Ulang
Daya tarik unik yang menyedot perhatian penonton lahir dari kreativitas para ibu Tim Penggerak PKK Kelurahan Sukoharjo.
Berjalan anggun dengan pakaian adat bertema Bhinneka Tunggal Ika, busana yang mereka kenakan sejatinya merupakan hasil olahan limbah daur ulang yang dirangkai secara telaten.
Selama sepekan penuh, para kader bahu-membahu menyulap bahan daur ulang menjadi gaun Nusantara yang menawan.
Semangat ini membuktikan bahwa pesona kebudayaan mampu dipadukan dengan kesadaran menjaga kelestarian lingkungan hidup.
“Ini full daur ulang, kita buat sendiri dari Pokja 2 Kelurahan Sukoharjo. Pembuatannya memakan waktu sekitar satu minggu,” tutur Ima, Sekretaris Pokja 2 TP PKK Kelurahan Sukoharjo, penuh kebanggaan.
Panggung Musik Dug-Dug Hingga Jaran Bodag
Kekayaan warisan budaya Jawa Timur terpancar kuat sepanjang rute karnaval menuju titik akhir di Patung Sapi Jalan Sunan Kudus.
Kesenian khas tampil memukau, mulai dari peragaan busana batik lokal, drama perjuangan, atraksi Putra Madura Bersatu, tarian Roro Jonggrang Tengger Bromo, hingga Jaran Bodag Bersolek.
Setiap lorong kelurahan memamerkan daya ciptanya masing-masing.
Keberagaman pertunjukan seni ini tak hanya menjadi ajang hiburan publik, tetapi juga sarana pewarisan nilai-nilai tradisi Nusantara kepada generasi muda Probolinggo.
“Selain untuk meningkatkan kreativitas partisipasi masyarakat dalam kegiatan seni budaya, kami ingin memperkenalkan potensi pariwisata dan produk unggulan di tingkat kelurahan,” kata Ketua Panitia Pelaksana, Harianto.
Mengalirkan Berkah bagi Usaha Kecil Warga
Di balik riuh parade dan alunan musik tradisional, Asoka Carnival 2026 menjadi sarana promosi yang efektif bagi para pelaku UMKM rumahan.
Deretan gerobak dan stan kuliner lokal tampak dipadati pengunjung yang ingin mencicipi kudapan khas Sukoharjo.
Mulai dari batik hasil cetakan warga, rempeyek gurih, keripik renyah, hingga kue bolen khas Sukoharjo disajikan hangat untuk menggaet pembeli.
Perputaran uang di sepanjang rute karnaval membuktikan bahwa pesta budaya tingkat kelurahan mampu membawa dampak ekonomi nyata bagi kesejahteraan keluarga.
“Untuk menyemarakkan, sekarang semakin meriah ya. Kami membawa produk batik dari UMKM Sukoharjo, peyek, keripik, serta bermacam-macam makanan. Kalau yang paling spesial khas Sukoharjo di sini ada kue bolen,” ujar Koordinator UMKM Kelurahan Sukoharjo, Misti Aryani.
Geliat Kebudayaan dari Akar Rumput
Asoka Carnival 2026 memberikan bukti bahwa kebudayaan yang hidup adalah kebudayaan yang dirawat dan dirayakan oleh warganya sendiri.
Kreativitas warga Sukoharjo telah mengubah festival tingkat kelurahan menjadi etalase seni dan ekonomi bernilai tinggi.
Dari helai kain daur ulang hingga manisnya kue bolen khas daerah, warga Probolinggo terus membuktikan bahwa keberagaman budaya dan semangat gotong royong adalah modal utama untuk bergerak dan bersinar bersama. (Diolah dari InfoPublik)

Tinggalkan Balasan