Jemari para perajin di Desa Gapluk tampak begitu lincah menyusun lembaran bilah bambu untuk membikin kerajinan bambu.

Diiringi debu-debu halus kayu yang berterbangan, bambu polos yang mulanya tak bernilai itu bertransformasi menjadi sebuah wadah mungil nan elok.

Dari tangan-tangan terampil warga Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro inilah, tradisi menganyam bambu terus dirawat agar tak tergerus zaman.

Keranjang mini buatan warga Desa Gapluk ini belakangan punya peran spesial.

Wadah berkapasitas 10 hingga 13 butir telur tersebut dirancang khusus untuk mendukung program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri).

Bukan sekadar wadah telur biasa, sentuhan estetik pada anyamannya membuat produk ini multifungsi dan bernilai jual lebih.

Terinspirasi Tren Digital

Daya tarik kerajinan ini tak lepas dari kejelian para perajin lokal dalam membaca selera pasar modern.

Mereka tak lagi hanya membuat perkakas dapur kaku, melainkan merancang suvenir cantik yang estetik.

Keterampilan bertransformasi ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal mampu beradaptasi dengan gaya hidup masa kini.

“Inovasi produk seperti keranjang mini ini sangat potensial. Terinspirasi dari e-commerce,” ujar Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Purwosari, Sri Wilujeng, Kamis (3/9/2026).

Menjaga Warisan, Menopang Dapur Rumah Tangga

Bagi masyarakat Desa Gapluk, menganyam bukan sekadar pekerjaan sampingan, melainkan urat nadi ekonomi keluarga.

Selain keranjang telur Gayatri, mereka juga piawai memproduksi besek, keranjang nyadran, hingga rinjing. Produk-produk ini kerap diburu masyarakat untuk keperluan hajatan, parsel hari raya, hingga suvenir pernikahan.

Untuk memproduksi satu unit anyaman berukuran sedang, seorang perajin membutuhkan waktu rata-rata satu hari penuh.

Ketelitian dan kerapian menjadi kunci utama agar hasil anyaman kokoh dan bernilai seni tinggi. Kerja keras itu terbayar ketika produk mereka dihargai mulai dari Rp15 ribu per unit.

Tantangan di Tengah Banjir Pesanan

Meski pasarnya kian terbuka lebar, jalan para perajin bambu Desa Gapluk tak sepenuhnya mulus.

Peningkatan permintaan pasar kerap membentur keterbatasan tenaga kerja terampil di desa. Sebagian besar perajin masih didominasi oleh generasi tua, sementara regenerasi pemuda lokal berjalan lambat.

Selain masalah regenerasi, pasokan bahan baku bambu berkualitas juga kerap menjadi kendala dalam menjaga kontinuitas produksi.

Padahal, jika kapasitas produksi bisa ditingkatkan, Desa Gapluk berpotensi menjadi sentra industri kreatif berbasis bambu yang mandiri di Bojonegoro.

Asa Menuju Pasar yang Lebih Luas

Potensi besar ini terus mendapat perhatian dari berbagai pihak untuk mendorong pembinaan berkelanjutan.

Pelatihan keterampilan, penambahan SDM muda, hingga perluasan akses pemasaran digital kini menjadi fokus utama agar kerajinan lokal ini tidak jago kandang.

Cita-cita para perajin sederhana: agar derit bilah bambu di rumah-rumah mereka tak pernah padam.

Dari balik keranjang mini penampung telur ini, tersimpan harapan besar warga Desa Gapluk untuk membawa karya tangan lokal menembus pasar nasional. (Diolah dari InfoPublik)