Gemuruh derap langkah kaki kuda memecah keheningan udara dingin Dataran Tinggi Gayo, Minggu (30/8/2026).
Di atas tanah lapang yang dikelilingi perbukitan hijau, ratusan kuda tangguh melaju kencang menyapa sorak-sorai riuh ribuan pasang mata.
Bukan sekadar arena adu cepat, Pacuan Kuda Tradisional Gayo adalah perayaan memori kolektif yang telah mendarah daging bagi masyarakat Aceh Tengah, Bener Meriah, hingga Gayo Lues.
Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur ini terus dijaga napas kehidupannya.
Setiap kali helatan digelar—baik dalam rangka hari jadi daerah maupun peringatan HUT Kemerdekaan—ribuan warga tumpah ruah menanggalkan berbagai sekat untuk merayakan identitas kebudayaan bersama.
Warisan Leluhur Penjaga Jati Diri
Bagi masyarakat Gayo, kuda bukan sekadar hewan ternak atau sarana transportasi masa lalu. Kuda adalah simbol ketangguhan, kebanggaan, dan kehormatan keluarga.
Olahraga berkuda tradisional yang kini telah masuk dalam agenda resmi Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI) ini menjadi bukti bagaimana nilai historis tetap relevan di era modern.
Keunikan ajang ini terletak pada ikatan emosional para joki muda dan pemilik kuda.
Mereka bertanding bukan semata-mata demi mengejar hadiah material, melainkan untuk menjaga marwah kebudayaan dan mempererat tali silaturahmi antardaerah di Tanah Gayo.
“Pacu Kuda merupakan salah satu tradisi yang melekat dengan masyarakat Gayo sehingga harus kita lestarikan,” jelas Bupati Aceh Tengah Drs. Haili Yoga.
Denyut Ekonomi dan Pesta Rakyat di Lapangan Sengeda
Riuh perlombaan pacuan kuda tradisional Gayo tak sekadar menyajikan tontonan gratis bagi publik.
Keramaian massa yang memadati tribun hingga pinggir lapangan membawa berkah ekonomi langsung bagi warga sekitar, mulai dari pedagang makanan tradisional, penginapan lokal, hingga pelaku UMKM Souvenir.
Ratusan kuda dari berbagai kelas bertanding selama sepekan penuh, menciptakan atmosfer festival yang menghidupkan ruang-ruang publik.
Kebersamaan masyarakat dalam menjaga ketertiban dan kebersihan arena menjadi cermin dari kearifan lokal yang luhur.
Merajut Persatuan dari Dataran Tinggi
Pacuan Kuda Tradisional Gayo terbukti sukses melintasi zaman, berdiri kokoh sebagai benteng pertahanan identitas kebudayaan di ujung barat Nusantara.
Di tengah gempuran modernisasi, riuh sorak dari pinggir arena pacu menjadi pengingat bahwa akar kebudayaan akan selalu menjadi rumah tempat masyarakat kembali.
Melalui ringkikan kuda dan semangat sportivitas para atlet lokal, masyarakat Gayo terus mengirimkan pesan persatuan kepada Indonesia: bahwa dari merawat tradisi leluhur, sebuah bangsa menemukan kekuatan untuk terus melangkah maju.(Diolah dari InfoPublik)

Tinggalkan Balasan