Riuh tepuk tangan membahana, memecah ketenangan perairan Ranu Klakah di Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Di atas permukaan danau vulkanik tersebut, deretan bithek meluncur megah—membawa napas tradisi lokal yang kini bertransformasi menjadi kekuatan pelestarian budaya, lingkungan, sekaligus penggerak roda ekonomi warga.
Bagi masyarakat Ranu Klakah, bithek atau gethek dalam bahasa Madura bukan sekadar rakit bambu penyeberang ke keramba jaring apung (KJA) atau sarana menjala ikan.
Rutinitas harian di atas rakit tersebut kini bertransformasi menjadi Pacu Bithek, sebuah ajang ketangkasan yang dikemas anggun sebagai festival budaya.
Dari Gethek Menjadi Pacu Bithek
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lumajang, Yuli Harismawati, menjelaskan bahwa penggunaan gethek telah mengakar kuat dalam kehidupan warga Ranu Klakah.
Tradisi berpacu dengan rakit bambu ini diwariskan secara turun-temurun, hingga akhirnya diperkuat dengan identitas baru pada perhelatan yang berlangsung Agustus 2026 lalu.
“Nama Pacu Bithek baru digunakan tahun ini agar tradisi ini memiliki identitas yang lebih kuat dan mudah dikenal masyarakat, seperti halnya Pacu Jalur yang telah mendunia,” ujar Yuli.
Rakit bambu yang semula alat pencari nafkah kini resmi menjelma menjadi simbol kebanggaan daerah.
Konservasi Berbalut Budaya dan Ekonomi
Festival Pacu Bithek tak sekadar menghadirkan keriuhan lomba, tetapi juga dirangkaikan dengan restocking atau penebaran benih ikan.
Langkah ini menjadi upaya krusial untuk memulihkan populasi ikan dan merawat ekosistem danau pasca-fenomena koyo.
Menurut Yuli, memadukan agenda pelestarian alam dengan aktivitas budaya membuat pesan edukasi lingkungan lebih mudah diterima masyarakat.
Sebagai bagian dari kawasan ikonik Trilogi Ranu di kaki Gunung Lamongan, Ranu Klakah tak hanya menyokong sektor perikanan air tawar, melainkan juga destinasi wisata alam.
Kehadiran festival ini terbukti memberi efek domino bagi perekonomian warga melalui lonjakan wisatawan yang membuka kran rezeki bagi pedagang kuliner dan pelaku UMKM lokal.
Simbol Persatuan Daerah
Apresiasi senada disampaikan Bupati Lumajang, Indah Amperawati. Ia menilai perhelatan ini sebagai percontohan nyata bagaimana kearifan lokal dapat menjadi motor pembangunan daerah.
“Festival Pacu Bithek bukan sekadar perlombaan, tetapi merupakan simbol persatuan, kebersamaan, dan gotong royong masyarakat Ranu Klakah.
Tradisi seperti ini harus terus kita lestarikan karena menjadi identitas daerah sekaligus kebanggaan Kabupaten Lumajang,” tegas Indah.
Bagi warga setempat, merawat tradisi pada hakikatnya adalah merawat danau sebagai sumber kehidupan.
Selama bilah-bilah bithek masih meluncur di Ranu Klakah, selama itu pula warisan leluhur akan tetap hidup, lingkungan terjaga lestari, dan ekonomi masyarakat terus berputar. (Foto/Sumber: InfoPublik)

Tinggalkan Balasan