Di tengah reruntuhan atau genangan banjir yang memutus akses kehidupan, krisis air bersih selalu menjadi ancaman mematikan nomor satu. Saat sumber air tercemar dan bantuan logistik terhambat, dahaga menjadi musuh utama para penyintas.

Dari keprihatinan mendalam atas nasib pengungsi di daerah darurat, sebuah inovasi teknologi penolong kehidupan lahir dari Semarang.

Gagasan tersebut diwujudkan oleh Prof. Dr. I Nyoman Widiasa bersama tim peneliti Universitas Diponegoro (UNDIP).

Mereka merancang Mobile Water Treatment—sebuah mesin pengolah air portabel yang dirancang tangguh untuk diterjunkan langsung ke wilayah bencana.

Menjawab Krisis Paling Krusial di Pengungsian

Selama ini, bantuan air di lokasi bencana kerap terkendala distribusi tanki yang lambat dan terbatas.

Teknologi buatan Prof. Nyoman ini memotong rantai masalah tersebut dengan memanfaatkan sumber air apa pun yang ada di lokasi darurat, lalu mengolahnya secara presisi di tempat.

Satu unit mesin portabel ini dibekali sistem penyaringan canggih yang tidak hanya menghasilkan air bersih untuk mencuci atau mandi, tetapi juga memurni -kannya hingga aman langsung diteguk tanpa perlu dimasak terlebih dahulu.

Kapasitas Besar untuk Ribuan Jiwa

Keunggulan utama inovasi ini terletak pada daya saringnya yang berkapasitas tinggi.

Dalam satu hari, satu unit Mobile Water Treatment mampu memproduksi hingga 20 ribu liter air bersih dan 2 ribu liter air minum siap konsumsi.

Kemampuan ini cukup untuk menyokong kebutuhan mendasar ribuan pengungsi serta petugas lapangan dalam sehari.

Kompleksitas penyaringan ultra-filtrasi di dalamnya memastikan air bebas dari mikroorganisme, lumpur, dan kontaminan berbahaya.

“Alat yang diproduksi Prof. Nyoman bersama UNDIP ini memang cukup kompleks dibandingkan alat lainnya. Jika alat lain mungkin hanya mengolah air sampai menjadi air bersih, teknologi ini dapat mengolahnya hingga siap dikonsumsi,” ujar Martino Budiawan, Perwakilan Mitra BNPB.

Cita-Cita Kemanusiaan dari Laboratorium Kampus

Bagi Prof. Nyoman dan tim, mahakarya ini bukan sekadar pencapaian akademis di atas kertas atau pajangan laboratorium.

Sejak awal dirancang, cita-cita utamanya adalah menghadirkan riset yang dapat langsung menyentuh dan menyelamatkan nyawa masyarakat.

Lima unit pertama kini telah disiagakan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak September 2026, dengan fokus awal mendampingi wilayah rawan bencana di Jawa Tengah sebelum nantinya disebar ke seluruh pelosok Nusantara.

“Ini merupakan awal kontribusi UNDIP dalam mendukung tanggap bencana di Indonesia. Kami berharap kepercayaan ini terus berkembang sehingga UNDIP dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dalam kebencanaan di Indonesia,” ujar Nyoman Widiasa.

Dharmabakti untuk Indonesia

Kehadiran unit pengolah air ini mempertegas peran akademisi yang tidak hanya berteori di ruang kuliah, melainkan turun tangan menyelesaikan hambatan nyata di lapangan.

Melalui teknologi air minum darurat ini, dahaga para korban bencana kini memiliki penawar yang nyata. Dari ruang riset kampus, aliran air bersih itu siap mengalir menjadi penambang harapan di tengah suasana duka. (Diolah dari Kemdiktisaintek)