Pemerintah Kabupaten Aceh Besar melalui Dinas Pendidikan Dayah menggelar Pelatihan Digitalisasi Santri Dayah Aceh Besar Tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Madinatul Zahra, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, Kamis (17/9/2026).
Pelatihan yang dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Besar, Adi Dharma, S.Pd., M.Pd., menjadi bagian dari upaya Pemkab Aceh Besar meningkatkan kapasitas dan keterampilan santri dalam menghadapi perkembangan teknologi digital. Santri didorong tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara positif, kreatif, produktif, dan bertanggung jawab.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 16 hingga 18 September 2026, kegiatan tersebut diikuti 50 santri yang berasal dari 12 kecamatan di Kabupaten Aceh Besar.
Selama pelatihan, para peserta mendapatkan berbagai materi, di antaranya literasi dan transformasi digital, desain grafis, pemanfaatan media sosial, fotografi dan videografi, serta pengenalan teknologi drone.
Kepala Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Besar, Adi Dharma, S.Pd., M.Pd., mengatakan digitalisasi menjadi hal penting bagi santri seiring pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial. Menurutnya, perkembangan tersebut juga membuka ruang yang luas bagi santri untuk menyampaikan dakwah melalui platform digital.
Ia menjelaskan, dakwah saat ini tidak hanya dilakukan melalui kegiatan secara langsung atau tatap muka, tetapi juga dapat disampaikan melalui berbagai platform digital seperti Facebook, TikTok, Instagram, serta media sosial lainnya.
Karena itu, ia mendorong para santri agar mampu memanfaatkan ruang digital untuk menyebarkan konten-konten positif yang mengandung pesan keislaman dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan santri-santri Aceh Besar bisa mengambil porsi ini, bisa mengambil ruang digitalisasi di media-media sosial untuk menampilkan konten-konten dakwah dan lain sebagainya,” ujarnya.
Adi Dharma juga berpesan agar santri tidak hanya menjadi konsumen informasi di media sosial, tetapi turut mengambil peran sebagai kreator atau produsen konten. Menurutnya, kemampuan digital perlu diiringi dengan adab dan nilai-nilai keislaman.
“Saya berpesan, kita tidak hanya menjadi konsumen di media sosial, tetapi juga harus menjadi produsen. Artinya, kita harus mampu membuat dan menyebarkan konten-konten yang bermanfaat di media sosial,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan