Tersembunyi di balik lebatnya hutan tropis Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua tantangan ketahanan pangan di perbatasan timur Indonesia dan Papua Nugini memanggil kepedulian para akademisi muda.

Di kawasan transmigrasi ini, para petani lokal kerap berjuang melawan keterbatasan pasokan air dan tingginya kadar keasaman tanah.

Memahami persoalan tersebut, sekelompok mahasiswa dan akademisi Universitas Diponegoro (UNDIP) memilih tidak tinggal diam di ruang kelas.

Melalui Tim 17 Ekspedisi Patriot UNDIP, para inovator muda ini terjun langsung melintasi ribuan kilometer menuju gerbang timur Nusantara.

Ekspedisi Patriot merupakan program Kementerian Transmigrasi RI, yang mengerahkan para akademisi, alumni, dan dosen ahli untuk berkolaborasi langsung di lapangan.

Mereka tidak membawa janji manis, melainkan bekal keahlian lintas disiplin—mulai dari ilmu pertanian, perikanan, ilmu komunikasi, hingga tata kota—untuk mendampingi masyarakat tapal batas mengelola potensi desanya secara mandiri.

Merancang Solusi Irigasi Berbasis Warga

Menjawab persoalan minimnya pasokan air yang kerap memicu gagal panen saat kemarau, para mahasiswa ini menginisiasi program irigasi berbasis masyarakat.

Mereka merancang sistem pengairan hemat air dan membangun lahan percontohan (demplot) seluas 50 x 45 meter di Kampung Woslay.

Lewat laboratorium terbuka ini, mahasiswa UNDIP mengajarkan teknik pengukuran pH tanah serta aplikasi sekam bakar dan kapur dolomit untuk menetralkan lahan asam ber-pH 5.

Peran para mahasiswa bukan sebatas menukar teori akademis di atas kertas.

Lewat pendekatan learning by doing, mereka mempraktikkan langsung budidaya komoditas tahan kering seperti jagung manis hingga hortikultura.

Mahasiswa memosisikan diri sebagai mitra sejajar yang merangkul Ketua Kelompok Tani Pak Sibur dan Ondoafi (kepala suku lokal) dalam satu semangat kolaborasi.

Jejak Pengabdian di Garis Batas

Dedikasi mahasiswa di garis depan perbatasan ini membuktikan peran krusial pemuda dalam mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan (SDG), khususnya ketahanan pangan dan pengelolaan air bersih.

Mereka memastikan bahwa setiap teknologi yang diperkenalkan berakar dari bahan lokal dan mudah direplikasi oleh warga setempat.

Ketika penugasan ekspedisi ini usai, jejak yang ditinggalkan mahasiswa UNDIP bukan hanya sistem irigasi yang terus mengalirkan air ke petak-petak sawah. Lebih dari itu, mereka telah menyalakan semangat kemandirian bagi para petani di tapal batas negara. (Diolah dari Universitas Diponegoro (UNDIP))