Hujan yang mengguyur Pidie sejak siang tidak menyurutkan langkah warga untuk mendatangi kompleks Pidie Convention Center (PCC), Rabu (16/9/2026) malam.

Sejak dari Simpang Tugu Mulieng, arus pengunjung terlihat memadati jalan menuju panggung utama perhelatan Uroe Lahe Pidie ke-515.

Di tengah udara malam yang sejuk, tepuk tangan warga bersahutan menyambut satu per satu penampilan seni dan budaya yang dipersembahkan putra-putri Pidie.

Malam perdana peringatan hari jadi Kabupaten Pidie itu dibuka Sanggar Bijeih Tari dari Kecamatan Simpang Tiga dengan Tari Ratoeh Jaroe.

Setelah itu, panggung terus berganti dengan beragam pertunjukan yang membawa warna budaya dari berbagai wilayah di Pidie.

Sanggar Putroe Seurune dari SMP Negeri Unggul Sigli tampil dengan Tari ThamThum (Tet Karbet), yang mengangkat tradisi dentuman meriam karbit dan bambu khas Pidie saat menyambut Idulfitri.

Pertunjukan berlanjut dengan Ratoeh Jaroe Vokal oleh Sanggar Gurindam dari Kecamatan Sakti, Rapai Geurimpheng oleh Baloh Setia dari Gampong Trueng Campli, Kecamatan Glumpang Baro, serta Pasang Jabet oleh Sanggar Sinar Ceudah Meuligo dari Kota Sigli.

Panggung kemudian diisi Tari Kreasi Meusyuhu oleh Sanggar Seni Leguna Jabal Ghafur dari Kecamatan Indrajaya, Ratoeh Jaroe oleh Sanggar Jeumpa Kuneng dari SMAN 1 Sigli, dan Tari Kreasi oleh Sanggar Kharisma Nanggroe dari SMAN Unggul Sigli.

Penampilan band lokal Orfeus dari Kota Sigli menjadi salah satu sajian yang turut menutup rangkaian pentas seni malam itu.

Di antara kerumunan penonton, Eva Nurjannah, warga Gampong Teungoh Blang, Kecamatan Indrajaya, mengaku langsung terkesima ketika memasuki area PCC.

“Mata saya langsung disuguhkan berbagai karya khas Pidie. Acara meriah, banyak perlombaan dari sekolah dan dari semua desa di Pidie yang bikin menarik,” ungkap Eva kepada Tim Diskominsa.

Eva juga menyempatkan diri mengunjungi sejumlah stan pameran dan UMKM. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah produk kerajinan berbahan batok kelapa.

“Sudah sempat keliling stand pameran dan UMKM, banyak yang menarik. Yang paling mencuri perhatian saya UMKM batee, banyak karya dari batok kelapa,” ujarnya dilansir dari InfoPublik.

Sementara itu, Lia, warga Sanggeu, Kecamatan Pidie, melihat pameran UMKM sebagai bagian menarik dari perhelatan tersebut.

Menurut dia, keberadaan stan dari 23 kecamatan memberi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat beragam ciri khas daerah.

“Meskipun belum sempat keliling semua stand, baru melihat sekilas, setiap stand pasti keren-keren karena memiliki ciri khas tersendiri,” ujarnya sembari menyaksikan pertunjukan seni di panggung utama.

Bagi Lia, peringatan Uroe Lahe Pidie bukan sekadar agenda tahunan. Kehadiran berbagai kesenian dan tradisi daerah membuat kegiatan tersebut selalu dinantikan masyarakat.

“Menurut saya masyarakat sangat antusias menyambut acara peringatan Uroe Lahe Pidie. Karena dari kegiatan ini masyarakat dapat melihat bermacam kesenian dan tradisi daerah Pidie,” tuturnya.

Malam perdana tersebut menjadi pembuka rangkaian Uroe Lahe Pidie ke-515 yang berlangsung hingga 20 September 2026 di kompleks PCC.

Di tengah hujan yang turun sejak siang, panggung seni, pameran UMKM, dan antusiasme warga menjadi bagian dari perayaan yang mempertemukan masyarakat dengan ragam budaya Pidie.