Jauh sebelum panggung-panggung megah dan ribuan penonton menggemakan lirik-lirik puitis pop Melayu, ada masa ketika sekumpulan pemuda asal Lampung harus berjalan menyusuri lorong-lorong jalanan demi setitik harapan.
Dengan semangat swadaya, kaset pita sederhana yang mereka rekam diputar dari satu angkutan umum ke angkutan umum lainnya.
Dari akar yang begitu bersahaja itulah, Kangen Band lahir melintasi sekat industri musik nasional. Namun, jalannya sebuah band kerap tak seindah harmoni lagu yang diracik.
Kelompok musik yang pernah menjadi simbol kebangkitan kelas pekerja ini kini kembali diterpa badai perpecahan paling kelam dalam sejarah perjalanannya.
Akar Keretakan dan Kezaliman yang Dirasakan
Gitaris sekaligus pendiri dan pencipta lagu utama Kangen Band, Dodhy Hardiyanto, mengambil langkah drastis yang menghentakkan jagat hiburan Tanah Air, Sabtu, 12 September 2026.
Pengumuman pembubaran grup secara sepihak diletupkan, mengakhiri rentetan panjang ikatan kerja sama yang telah terbangun puluhan tahun.
“Bismillah saya dengan sadar menyatakan Kangen Band bubar dikarenakan ada kezaliman di dalamnya, saya selaku owner dan founder Kangen Band sudah menyimpan rasa sakit ini sekian lama,” tulis Dodhy di Instagram pribadinya (@dodhyofficial).
Langkah tegas ini ditengarai oleh puncak rasa kecewa terhadap sang vokalis ikonik, Andika Mahesa, yang dinilai melangkah sendiri mengambil penampilan solo tanpa koordinasi internal grup.
Bagi Dodhy, tindakan tersebut melukai prinsip kebersamaan yang menjadi pondasi utama band.
Bayang-Bayang Trauma dan Hak Cipta
Gelombang konflik antara dua pilar utama Kangen Band ini seolah membuka kembali luka lama.
Publik tentu belum lupa peritiwa tahun 2012 saat Andika memutuskan hengkang dari grup, yang memicu masa-masa suram dan pergantian vokalis berulang kali sebelum akhirnya mereka bereuni penuh pada tahun 2020.
Keputusan kali ini berdampak lebih tajam.
Dodhy mengeluarkan larangan keras bagi para mantan personel maupun pihak penyelenggara acara (event organizer) untuk membawakan lagu-lagu ciptaannya.
Karya-karya monumental seperti Tentang Aku, Kau, dan Dia, Yolanda, hingga Bintang 14 Hari kini berada dalam himpitan hukum dan klaim hak cipta.
Dilema di Tengah Bingungnya Sang Vokalis
Di sisi lain, Andika Mahesa mengaku terpukul dan bingung atas keputusan sepihak dari rekan seperjuangannya tersebut.
Bagi Andika, hubungan antarpersonel terasa baik-baik saja, terlebih mereka baru saja sukses menghibur para pekerja migran di panggung internasional Hong Kong.
Perbedaan cara pandang dan retaknya komunikasi ini akhirnya menggoyahkan fondasi yang dibangun dengan darah dan air mata.
Publik kini hanya bisa menyaksikan apakah perjalanan musik kelompok asal Lampung ini benar-benar berakhir sebagai kenangan, ataukah masih ada ruang maaf yang tersisa di antara mereka. Mari kita tunggu!

Tinggalkan Balasan