Pembangunan markas Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 885/Blibis Putih di Desa Buntalan, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, kini terus dikejar pengerjaannya. Satuan baru di bawah naungan Brigade Infanteri (Brigif) TP 33 ini diproyeksikan menjadi kekuatan strategis TNI Angkatan Darat dalam mendukung ketahanan pangan serta infrastruktur nasional. Saat ini, proses pembukaan lahan di kawasan perhutanan sosial telah rampung dan siap memasuki tahapan konstruksi fisik bangunan utama. Kehadiran satuan ini menjadi prioritas karena Bojonegoro dianggap memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor agraris dan stabilitas teritorial.
Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) TP 885, Letkol Inf Rino Wahyu Nugroho, menegaskan bahwa satuan ini memiliki spesialisasi yang berbeda dibandingkan dengan Komando Distrik Militer (Kodim). Pembentukan Yonif TP merupakan langkah konkret TNI dalam mengawal visi Asta Cita kedua Presiden Prabowo Subianto mengenai kemandirian bangsa. “Yonif TP ini satuan baru untuk mendukung visi misi Presiden melalui swasembada pangan, energi, air, hingga ekonomi hijau,” ujar Letkol Rino saat menjelaskan peran strategis satuannya. Fokus utama mereka adalah mengintegrasikan kekuatan militer dengan pemberdayaan sumber daya alam demi kesejahteraan masyarakat luas.
Struktur organisasi Yonif TP 885 dirancang secara komprehensif yang terdiri dari sembilan kompi dengan keahlian khusus yang beragam. Kompi-kompi tersebut meliputi bidang pertanian, peternakan, konstruksi, hingga tim medis yang masing-masing diperkuat oleh lebih dari seratus personel terlatih. Hingga saat ini, sebanyak 636 prajurit telah disiagakan di area transit atau marshaling area yang berlokasi di Kecamatan Dander. Secara keseluruhan, batalyon ini ditargetkan mampu menampung total 1.190 personel untuk mengoperasikan seluruh program pembangunan teritorial secara maksimal.
Selain berfokus pada pembangunan fisik, seluruh prajurit Yonif TP 885 diinstruksikan untuk membaur dan memberikan dampak langsung bagi warga di sekitar barak. Sektor kesehatan menjadi salah satu program unggulan melalui aksi donor darah serta pemberian layanan medis ringan bagi masyarakat setempat secara berkala. Pendekatan humanis ini bertujuan agar kehadiran militer tidak hanya sebagai penjaga kedaulatan, tetapi juga sebagai mitra pembangunan sosial. Letkol Rino berharap sinergi antara prajurit dan masyarakat Bojonegoro dapat mempercepat distribusi manfaat dari program pemerintah pusat.
Pembangunan tahap pertama yang meliputi barak, Markas Komando (Mako), gudang amunisi, serta fasilitas sanitasi ditargetkan rampung pada Mei mendatang. Setelah fasilitas dasar selesai, proyek akan dilanjutkan ke tahap berikutnya yang mencakup pembangunan perumahan prajurit dan area latihan militer yang modern. Bojonegoro sendiri menjadi salah satu dari lima wilayah di Jawa Timur yang telah memulai operasional Yonif TP selain Bangkalan, Probolinggo, Tulungagung, dan Lamongan. Akselerasi pembangunan infrastruktur ini dipantau secara ketat guna memastikan kesiapan operasional satuan dalam waktu singkat sesuai linimasa yang ditetapkan.
Secara nasional, pemerintah menargetkan pembentukan 500 Yonif TP di seluruh penjuru Indonesia selama satu periode kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Program strategis ini mematok target berdirinya 100 satuan baru setiap tahunnya untuk memperkuat sistem pertahanan keamanan rakyat semesta. Keberhasilan di Bojonegoro akan menjadi tolok ukur bagi pengembangan satuan serupa di wilayah lain seperti Tuban, Nganjuk, hingga Sumenep yang masih berproses. “Ini adalah komitmen besar untuk memantapkan sistem pertahanan negara sekaligus mendorong kemandirian ekonomi dari level daerah,” pungkas Letkol Rino menutup penjelasannya.
Tidak ada komentar