Jatim Park Group memperkuat konsep wisata edukasi melalui pengembangan wahana yang memadukan pembelajaran sains, pengenalan budaya, teknologi, serta konservasi satwa.

Pengembangan tersebut dilakukan untuk memberikan pengalaman wisata yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga memperluas pengetahuan pengunjung.

Public Relations Jatim Park Group, Audi, mengatakan salah satu pengembangan terbaru adalah Mega Science, wahana yang dirancang sebagai ruang pembelajaran sains dan budaya.

Wahana tersebut dikembangkan sejak tahun sebelumnya dan ditargetkan dibuka untuk umum pada 2026.

“Mega Science itu salah satu wahana baru kita yang memang tujuannya untuk edukasi.

Di dalamnya pembelajaran tentang sains dibagi dari fisika, biologi, kimia, robotik, AI, terus ada juga astronomi,” ujar Audi di Kota Batu, Malang, Jawa Timur, Selasa (15/9/2026).

Menurut Audi, konsep Mega Science tidak hanya menghadirkan pembelajaran sains, tetapi juga mengangkat berbagai aspek kebudayaan.

Pengunjung dapat menemukan materi mengenai sejarah dan kebudayaan, termasuk kisah para nabi, wayang Potehi dari Tiongkok, hingga sejarah Majapahit.

Salah satu area yang menjadi unggulan adalah astronomi.

Di area tersebut terdapat sejumlah fasilitas edukasi yang dirancang untuk memberikan gambaran mengenai ilmu dan teknologi antariksa, termasuk replika peluncuran roket dan Tesla coil.

Audi menjelaskan Mega Science masih berada dalam tahap trial opening sehingga sejumlah fasilitas masih terus disempurnakan sebelum pembukaan secara penuh.

“Memang kita membahas lebih ke budaya dan juga sains. Area unggulan kita itu ada di astronomi,” katanya dilansir dari InfoPublik.

Pengembangan Mega Science menjadi bagian dari upaya Jatim Park Group memperbarui atraksi secara berkala.

Menurut Audi, masing-masing area dalam jaringan Jatim Park Group memiliki pengembangan dan pembaruan wahana yang disesuaikan dengan karakter destinasi.

Jatim Park Group saat ini mengelola 16 lokasi di Kota Batu.

Selain Jatim Park 1, Jatim Park 2, dan Jatim Park 3, sejumlah destinasi lain seperti Museum Angkut dan Batu Night Spectacular (BNS) juga berada dalam jaringan Jatim Park Group.

Jatim Park 1 yang mulai beroperasi sejak 2001 juga terus mengalami pengembangan melalui penambahan wahana dan materi edukasi baru.

Sementara Jatim Park 2 memiliki kekhasan pada aspek satwa dan konservasi melalui Batu Secret Zoo.

Menemukenali Berbagai Satwa dan Habitatnya

Di Batu Secret Zoo, edukasi kepada pengunjung dikembangkan melalui pengenalan berbagai jenis satwa dan habitatnya.

Audi menjelaskan pengelolaan satwa dilakukan dengan memperhatikan prinsip konservasi dan tidak diarahkan untuk menjinakkan satwa.

“Karena sebenarnya kalau konsep kita di kebun binatang itu kita tidak menjinakkan hewan. Jadi kita hanya mengkonservasikan saja di lembaga ex situ,” ujarnya.

Pengelolaan satwa, lanjut Audi, melibatkan keeper, dokter hewan, dan kurator. Area pamer satwa juga dirancang dengan mempertimbangkan karakter habitat asli masing-masing satwa.

Menatap Horizon Baru Pariwisata Indonesia dari NHI Bandung

Salah satu contohnya adalah area bekantan. Satwa endemik Indonesia tersebut ditempatkan dalam area yang mengambil inspirasi dari lingkungan dan rumah adat Kalimantan.

Desain tersebut menggambarkan keterkaitan berbagai satwa dalam satu ekosistem.

Bekantan ditempatkan pada bagian atas, sementara jenis burung dan ikan berada di bagian lain sehingga pengunjung dapat memperoleh gambaran mengenai kehidupan satwa dalam habitatnya.

“Untuk exhibit yang ada di Jatim Park 2 itu disesuaikan dengan yang ada di alamnya,” kata Audi.

Konsep serupa diterapkan pada sejumlah satwa lainnya. Area red panda, misalnya, dirancang dengan nuansa yang terinspirasi dari Jepang.

Sementara Tiger Land menjadi kawasan yang menghadirkan berbagai jenis harimau, termasuk harimau Sumatera.

Menurut Audi, keberadaan satwa dengan karakteristik berbeda tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi agar masyarakat mengenal satwa yang belum banyak diketahui.

Salah satunya adalah pygmy marmoset, primata berukuran sangat kecil yang menjadi salah satu koleksi satwa di Batu Secret Zoo.

Selain itu, terdapat pula aardvark yang menjadi salah satu satwa yang menarik perhatian pengunjung.

“Tujuan kita adalah mengenalkan ke masyarakat tentang satwa-satwa yang mungkin tidak diketahui oleh masyarakat. Jadi bukan hanya seperti jerapah atau gajah saja, tetapi banyak satwa yang tidak diketahui,” ujarnya.

Dari Ambarawa hingga Sawahlunto: 7 Saksi Bisu Sejarah Kereta Api Indonesia

Pengelolaan konservasi tersebut juga membuka peluang kerja sama dan pertukaran satwa dengan lembaga konservasi lain.

Audi menyebut kerja sama dilakukan dalam jaringan konservasi yang mencakup Indonesia hingga kawasan Asia.

Dalam pengelolaan satwa, aspek kesejahteraan dan keselamatan juga menjadi perhatian.

Audi mengatakan interaksi langsung pengunjung dengan satwa dibatasi sesuai karakter dan kebutuhan satwa. Pengunjung tidak diperkenankan memberi makan satwa tertentu yang berada dalam area konservasi.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa wisata satwa tidak hanya diarahkan untuk menghadirkan tontonan, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai perilaku dan habitat satwa.

Selain pengembangan wahana, Jatim Park Group juga menambah fasilitas akomodasi untuk mendukung kebutuhan wisatawan, khususnya rombongan.

Audi menyebut 1979 Social Hotel menjadi salah satu akomodasi yang dikembangkan untuk mendukung aktivitas wisata di sekitar Jatim Park 2.

Hotel tersebut memiliki kamar dengan kapasitas yang dapat menampung keluarga maupun rombongan.

Selain itu, terdapat Heliconia Hotel yang dibangun pada tahun sebelumnya dan mulai beroperasi pada 2026. “Kita ada Heliconia Hotel. Heliconia dibangun tahun kemarin dan dibuka tahun ini. Sama hotel ini juga,” ujar Audi.

Jaringan akomodasi tersebut melengkapi fasilitas yang telah dimiliki Jatim Park Group, termasuk Pohon Inn Hotel dan Klub Bunga Butik Resort di kawasan Jatim Park 1 serta fasilitas pertemuan di sejumlah hotel.

Untuk memperkuat layanan bagi wisatawan rombongan, Jatim Park Group juga mulai mengembangkan Tourism Service Center (TSC).

Unit tersebut diarahkan untuk menangani kebutuhan wisatawan, termasuk hubungan dengan agen perjalanan, akomodasi, transportasi, dan paket wisata.

Audi mengatakan pengembangan paket wisata terintegrasi sedang dilakukan dengan konsep akomodasi dan kunjungan ke berbagai destinasi Jatim Park Group.

“Kita lagi konsep paket hotel plus wisata, dan itu tiga hari dua malam,” katanya.

Konsep tersebut disusun dengan mempertimbangkan banyaknya destinasi yang berada dalam jaringan Jatim Park Group. Dengan 16 lokasi, wisatawan memiliki pilihan destinasi sesuai minat dan waktu kunjungan.

Pengembangan wahana dan fasilitas juga menjadi bagian dari strategi Jatim Park Group menghadapi perubahan kondisi industri pariwisata.

Audi mengatakan tingkat kunjungan wisata mengalami perubahan setelah pandemi Covid-19.

Ia juga menyebut kondisi ekonomi dan kebijakan efisiensi turut memengaruhi mobilitas masyarakat, meskipun pihaknya tidak menyampaikan angka penurunan kunjungan secara spesifik.

Karena itu, pembaruan destinasi dilakukan dengan memperhatikan segmentasi wisatawan.

Wisata Edukasi dan Hiburan

Menurut Audi, wisatawan dari berbagai daerah memiliki ketertarikan yang berbeda terhadap destinasi Jatim Park Group.

Museum Angkut, misalnya, banyak dikunjungi wisatawan dari Jawa Barat, sementara Jatim Park 1 dan Jatim Park 2 memiliki segmen wisatawan yang lebih beragam, termasuk wisatawan mancanegara.

Wisatawan mancanegara yang berkunjung antara lain berasal dari kawasan Eropa dan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Thailand.

Kehadiran unsur konservasi menjadi salah satu daya tarik Batu Secret Zoo bagi wisatawan yang ingin mengenal satwa sekaligus memperoleh pengalaman edukatif.

Sementara di Jatim Park 3, pengunjung dapat menemukan sejumlah destinasi dengan tema teknologi, sejarah, musik, dan hiburan, seperti Museum Musik Dunia, Funtech Plaza, Legend Star Park, Dino Park, serta Millennial Glow Garden.

Dengan beragam tema tersebut, Jatim Park Group mengembangkan model wisata yang menggabungkan edukasi dan hiburan dalam satu ekosistem destinasi.

“Wisata edukasi dan entertainment,” kata Audi ketika menjelaskan karakter utama pengembangan destinasi Jatim Park Group.

Pengembangan tersebut menempatkan wisata edukasi sebagai salah satu pendekatan untuk membuat kunjungan lebih bermakna.

Pengunjung tidak hanya memperoleh pengalaman rekreasi, tetapi juga dapat mengenal sains, teknologi, budaya, sejarah, serta konservasi satwa.

Melalui pembaruan wahana, pengembangan akomodasi, dan penguatan layanan wisata terintegrasi, Jatim Park Group terus menyesuaikan destinasi dengan kebutuhan wisatawan sekaligus mempertahankan fungsi edukasi sebagai bagian dari pengalaman berwisata di Kota Batu.