Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) mengembangkan MBG-JICA Pilot untuk mengkaji penerapan pendekatan shokuiku dalam memperkaya pengalaman peserta didik melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pendekatan shokuiku merupakan pengalaman Jepang dalam mengintegrasikan pendidikan pangan dan gizi dengan penyelenggaraan makan di sekolah. Pendidikan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan tentang makanan dan gizi, tetapi juga mendorong pengalaman praktis siswa dalam mengenal makanan, proses penyediaannya, hingga kebiasaan makan.
Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, mengatakan pengalaman Jepang tersebut dapat menjadi salah satu referensi bagi Indonesia dalam mengembangkan pelaksanaan MBG.
“Melalui kerja sama ini, kami melihat bagaimana pendekatan shokuiku dapat memperkaya pengalaman anak dalam mengikuti program makan di sekolah. Jadi, makanan bukan hanya diterima dan dikonsumsi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses belajar mengenai pangan, gizi, serta pihak-pihak yang terlibat dalam penyediaannya,” ujar Prima dalam keterangan persnya pada Jumat (25/9/2026).
Menurut Prima, pengembangan pilot tersebut tidak hanya melihat makanan dari sisi pemenuhan kebutuhan gizi. Pengalaman siswa selama menerima dan mengonsumsi makanan juga menjadi bagian yang dikaji.
Dalam rancangan MBG-JICA Pilot, terdapat sejumlah aspek yang menjadi perhatian, antara lain pengurangan sampah dan sisa makanan, peningkatan proses pengiriman dan penyajian makanan, penguatan keterlibatan siswa dalam kegiatan makan di sekolah, serta pendidikan pangan dan gizi.
Pilot tersebut dirancang melalui dua komponen yang saling melengkapi, yakni Shokkan Trial di tingkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Shokuiku Activities di tingkat sekolah.
Melalui Shokkan Trial, pembelajaran diarahkan pada pengalaman di tingkat penyediaan layanan makanan. Sementara itu, Shokuiku Activities memberikan ruang bagi sekolah untuk memperkuat pengalaman peserta didik dalam memahami makanan dan gizi.
Prima mengatakan dua komponen tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai hubungan antara proses penyediaan makanan dan pengalaman siswa sebagai penerima manfaat MBG.
“Kami ingin melihat keterhubungan antara apa yang terjadi di tingkat SPPG dengan pengalaman anak ketika menerima dan mengonsumsi makanan di sekolah. Dari sana, kita dapat mempelajari aspek mana yang dapat mendukung peningkatan kualitas layanan sekaligus memperkuat edukasi pangan dan gizi,” katanya.
Keterlibatan Siswa
Selain aspek penyediaan makanan, pilot tersebut juga mengkaji keterlibatan siswa dalam kegiatan makan di sekolah. Siswa tidak hanya ditempatkan sebagai penerima makanan, tetapi juga diarahkan untuk memiliki pengalaman dalam memahami makanan yang dikonsumsi.
Pengalaman tersebut mencakup pemahaman mengenai pangan dan gizi, kebiasaan makan, serta kesadaran terhadap proses dan pihak-pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan di sekolah.
Menurut Prima, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat MBG sehingga program tidak hanya berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi peserta didik, tetapi juga dapat menjadi sarana pembelajaran.
“Harapannya, pembelajaran dari Jepang dapat menjadi referensi untuk terus mengembangkan MBG sesuai dengan konteks Indonesia. Kita ingin memastikan bahwa pengalaman yang diperoleh siswa melalui MBG juga dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai pangan dan gizi,” tuturnya.
Kerja sama BGN dan JICA melalui MBG-JICA Pilot menjadi ruang untuk mempelajari pengalaman penyelenggaraan makan sekolah di Jepang sekaligus mengidentifikasi pendekatan yang relevan dengan kebutuhan Indonesia.
Pembelajaran tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan MBG dari dua sisi, yakni peningkatan kualitas penyelenggaraan layanan makanan dan penguatan pendidikan pangan serta gizi bagi peserta didik.
BGN bersama JICA selanjutnya terus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman untuk mengembangkan pendekatan yang dapat diterapkan sesuai konteks Indonesia.
Dengan pendekatan tersebut, pelaksanaan MBG diharapkan tidak hanya menghadirkan makanan bergizi bagi peserta didik, tetapi juga memberikan pengalaman yang dapat memperkuat pemahaman mereka mengenai pangan, gizi, kebiasaan makan, serta pentingnya mengurangi sampah makanan.

Tinggalkan Balasan