Pertanyaan mengenai peran kapur barus dari Nusantara sebagai bahan pengawet mumi-mumi Mesir kuno telah lama menjadi perbincangan menarik. Benarkah komoditas berharga dari tanah Sumatra ini menjadi rahasia di balik keabadian Firaun yang legendaris? Penelusuran jejak sejarah dan arkeologi membuka tabir kemungkinan yang menggugah rasa penasaran.
Sebagai komoditas yang sangat mahal pada zamannya, Kapur Barus tidak hanya digunakan untuk mumifikasi. Orang Mesir Kuno pada masa Nabi Yusuf ‘alaihis salam telah memanfaatkan Kapur Barus untuk berbagai keperluan, di antaranya sebagai bahan obat serbaguna, pewangi, anti bakteri, dan bahkan bisa diminum sebagai ramuan untuk kesehatan.
Dalam Kitab As-Sab‘iyyat fi Mawa’izhil Bariyyat pada hamisy Al-Majalisus Saniyyah, ada kisah dialog antara Nabi Yusuf dengan Zulaikha. Dialog tersebut mengungkapkan tentang dalamnya rasa cinta Zulaikha kepada Nabi Yusuf. Cerita tersebut ada pada bagian pembahasan keagungan Hari Jum’at karena salah satu pernikahan penting pada hari Jumat adalah Nabi Yusuf yang menikahi Zulaikha.
Zulaikha menjawab: “Aku adalah orang yang telah membelimu dengan permata, intan, berlian, emas, perak, misik dan kafur (Kafur Barus). Akulah orang yang tidak pernah kenyang dari makanan sejak aku mencintaimu, dan mataku tak dapat dipicingkan semenjak memandangmu,” (Abu Nashar Muhammad bin Abdurrahman Al-Hamadani, As-Sab‘iyyat fi Mawa’izhil Bariyyat pada hamisy Al-Majalisus Saniyyah (Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa tahun). Penyebutan “Kapur Barus” pada kutipan kisah tersebut disejajarkan dengan permata, intan, berlian, emas, perak, dan misik. Semuanya adalah benda-benda berharga yang sangat mahal pada masanya. Orang-orang yang memiliki benda-benda tersebut pastilah orang yang kaya secara material. Benda-benda tersebut diberikan sebagai hadiah mewah untuk orang-orang khusus. Kisah cinta tentang Nabi Yusuf dan Zulaikha tentu sudah sangat terkenal. Karena dalamnya rasa cinta itu, Zulaikha bahkan gemar memberikan benda-benda berharga kepada orang yang menyebut nama Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Maka benda-benda koleksinya seperti emas, perak, bahkan kapur barus akan diberikan oleh Zulaikha kepada orang yang berjasa membawakan kabar tentang Nabi Yusuf untuknya.(Sumber: nu.or.id)
Kapur barus yang banyak beredar di pasaran saat ini umumnya merupakan kamper sintetis yang terbuat dari bahan terpentin. Namun, ribuan tahun silam, manusia mengenal dan menggunakan kapur barus alami yang berasal dari kristal hasil ekstraksi pohon laurel kamper (Cinnamomum camphora), atau yang lebih dikenal sebagai pohon kamper.
Pohon ini merupakan tanaman berbatang tinggi, mampu mencapai ketinggian 20-30 meter atau lebih. Kulit kayunya pucat, kasar, dan dipenuhi retakan vertikal. Daunnya yang mengkilap dan mengandung lilin, apabila dilumat, akan menghasilkan bau khas kapur barus yang kita kenal.
Dulu, pohon kamper ini banyak ditemukan di hutan-hutan daerah Barus, Tapanuli Selatan. Sayangnya, akibat eksploitasi yang masif di masa lalu, keberadaannya kini nyaris punah. Dari nama daerah Barus inilah komoditas ini kemudian dikenal sebagai kapur barus. Getahnya yang menyerupai kapur telah dimanfaatkan manusia sejak ribuan tahun lalu, bahkan di daerah asalnya benda menyublim ini juga disebut sebagai haburuan atau kaberun.
Manfaat kamper untuk kesejahteraan umat manusia telah membawa kemasyhurannya hingga ke jazirah Arab dan Persia sejak dahulu kala. Kapur berbentuk kristal ini bukanlah barang murah. Harga satu kilogramnya pada masa itu memiliki nilai yang setara dengan satu kilogram emas, menunjukkan betapa strategis dan berharganya komoditas ini.
Berkat getah kamper yang banyak dicari penduduk dunia, pada abad ke-6 Masehi kota Barus sangat dikenal. Bukan hanya sebagai pengekspor kapur barus terbesar di dunia, tetapi juga sebagai kota bandar pelabuhan perdagangan internasional. Posisinya yang strategis di pantai barat Sumatra bagian utara menjadikannya mudah dikunjungi saudagar-saudagar dari luar Nusantara.
Marco Polo, pedagang dan penjelajah ulung asal Italia, yang menyusuri Jalur Sutra pada 1281-1295, mencatat dalam literatur sejarahnya tentang Barus sebagai tempat asal kamper. Ia menyebut Barus (dengan nama Farus atau Fansur) adalah penghasil kapur barus terbaik di dunia. Dalam catatan-catatan dunia, sebutan nama Barus memang bervariasi, salah satunya Barrousai.
Bahkan, Barus sebagai kota bandar sudah tercantum dalam peta dunia jauh sebelum Marco Polo bertandang. Namanya sudah ada dalam kitab ilmu bumi Geographike Hyphegesis yang terbit pada 160 Masehi. Kitab tersebut disusun oleh Claudius Ptolemy, seorang ilmuwan yang tinggal di kota kuno Aleksandria dan tak pernah datang ke Barus. Geographike Hyphegesis menjadi keterangan paling tua tentang Barus, menjadi petunjuk bahwa pedagang-pedagang Tiongkok, India, dan Arab telah memiliki hubungan dagang dengan pelabuhan Barus sejak sebelum bangsa Eropa tiba di Nusantara.
Selain nilai ekonominya yang fantastis, kapur barus alami juga memiliki banyak manfaat bagi tubuh manusia, seperti menghangatkan tubuh di tempat dingin dan mengobati sakit perut. Namun, salah satu fungsi yang paling menarik adalah kemampuannya untuk mengawetkan jenazah.
Ada cerita yang menyebutkan bahwa pada 5000 Sebelum Masehi, Mesir mengimpor kapur barus dari Nusantara untuk dijadikan bahan pengawet jenazah di zaman Firaun. Catatan ini diperkuat oleh J. Fachruddin Daulay, staf pengajar Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sumatra Utara, yang menyatakan adanya keterangan bahwa kapur barus dari Indonesia pernah digunakan sebagai bahan pengawet mumi raja-raja Mesir.
Dugaan ini semakin menarik dengan adanya informasi bahwa di Barus pernah berdiri sebuah kerajaan kuno bernama Lobu Tua, yang diperkirakan sudah ada sejak 3000-5000 Sebelum Masehi. Perkiraan tahun tersebut muncul setelah kandungan kapur barus ditemukan pada mumi-mumi Mesir kuno dari masa yang sejaman.
Namun, di sisi lain, ada penelitian yang memberikan perspektif berbeda. Dr. Stephen Buckley, arkeolog dari Universitas York, Inggris, bersama timnya, mengadakan tes kimiawi forensik pada kain linen pembungkus mumi Mesir yang diperkirakan berasal dari 4000 Sebelum Masehi. Tujuannya untuk mengungkap resep pembalseman mumi.
Dalam penelitian itu, mereka menemukan jejak beberapa jenis tanaman yang dipakai dalam proses pembalseman, yaitu minyak wijen, sari akar (kemungkinan dari rumput gajah), karet dari tanaman, gula alamiah (mungkin dari sari akasia), dan getah pohon kayu jarum (kemungkinan getah pinus). Ekstrak getah laurel kamper tidak disebutkan dalam laporan Dr. Buckley, yang berarti jejaknya tidak ditemukan pada mumi tersebut.
Meskipun demikian, tidak ditemukannya jejak kamper dalam penelitian Dr. Buckley bukan berarti bahwa kapur barus sama sekali tidak pernah dipakai untuk pembalseman mumi di Mesir. Dunia penelitian arkeologis adalah bidang yang bergerak dinamis, dan segala kemungkinan selalu terbuka seiring dengan penemuan-penemuan baru.
Kisah kapur barus dari Barus, Nusantara, adalah warisan sejarah yang kaya, menghubungkan Sumatra dengan peradaban Mesir kuno melalui jaringan perdagangan global yang telah terjalin ribuan tahun. Apakah kapur barus benar-benar menjadi rahasia abadi mumi Firaun? Bukti-bukti historis dan penemuan parsial memberikan petunjuk yang kuat, meski detail ilmiah masih terus digali.
Satu hal yang pasti, kapur barus adalah permata Nusantara yang pernah mendunia, dan penelitian lebih lanjut mungkin akan mengungkap lebih banyak lagi tentang perannya dalam sejarah peradaban manusia, mengukuhkan Barus sebagai salah satu titik penting dalam peta perdagangan kuno dunia.
Tidak ada komentar