Transformasi TPA Pakusari Dari Darurat Sampah Menuju Emas Hijau di Era Kepemimpinan Bupati Fawait

waktu baca 4 menit
135

 

Penulis : Tiara Primavika Bestari 

 

 

Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari di Kabupaten Jember pada awal 2026 sempat berada di titik nadir. Gunungan sampah setinggi 32 meter berdiri angkuh dan mengancam keselamatan warga. Dengan volume sampah rumah tangga yang masuk mencapai 1300 ton per hari, TPA ini bukan lagi sekedar tempat penampungan sampah, melainkan bom waktu yang siap meledak dalam bentuk longsoran ke lahan pertanian warga. Namun, di bawah kepemimpinan Bupati Fawait, ancaman bencana ini justru berpotensi untuk diubah menjadi peluang ekonomi baru yang luar biasa.

 

Dunia pengelolaan sampah Indonesia tidak akan lupa pada tragedi TPA Bantar Gebang pada bulan Ramadhan yang baru saja berlalu. Resiko serupa menghantui pengelolaan sampah di Kabupaten Jember ketika ketinggian sampah di TPA Pakusari melampaui batas aman. Resiko longsor ke lahan persawahan bukan sekadar ketakutan kosong, hal ini adalah ancaman nyata bagi mata pencaharian warga. Bau tak sedap yang menyengat juga menjadi “menu harian” masyarakat sekitar, sementara alat pemilah sampah yang tersedia seringkali mengalami kendala operasional.

 

Pemerintah Kabupaten Jember melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga sudah bergerak cepat dengan metode terasering. Ekskavator dan wheel loader bekerja nonstop membentuk struktur tumpukan sampah yang lebih stabil guna meminimalkan resiko longsor. Meski peran 300 pemulung sangat membantu dalam mereduksi volume sampah di TPA Pakusari tetapi Bupati Fawait sendiri menyadari bahwa penanganan di hilir saja tidak akan pernah cukup. Dibutuhkan revolusi teknologi yang mampu menuntaskan masalah dari akar hingga ke pucuknya.

 

Langkah progresif Pemerintah Kabupaten Jember dalam menangani sampah juga tidak lepas dari garis kebijakan nasional. Presiden Prabowo Subianto yang secara spesifik memberikan atensi besar terhadap kedaulatan energi dan ketahanan lingkungan melalui pengelolaan sampah modern. Arahan Presiden sangat jelas “sampah tidak boleh lagi menjadi beban, melainkan harus menjadi aset bangsa”.

 

Bupati Fawait menerjemahkan visi tersebut dengan menggandeng berbagai sektor baik BUMN maupun swasta, kerjasama ini diharapkan bisa membawa teknologi mutakhir ke bumi Jember untuk mengubah paradigma “buang sampah” menjadi “industri pengolahan”. Fokus utamanya adalah menangani total volume sampah Jember yang mencapai 1.300 ton per hari, sebuah angka yang mustahil diselesaikan hanya dengan cara-cara konvensional atau sekadar menimbun tanah.

 

Penerapan tekhnologi modern dengan menggunakan metode pirolisis. Berbeda dengan pembakaran biasa yang menghasilkan polusi, pirolisis merupakan proses dekomposisi termokimia material organik melalui pemanasan tanpa oksigen. Teknologi ini mampu mengolah sampah plastik dan residu organik menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi.

 

Melalui skema waste to product, sampah yang dulunya dianggap kotoran kini menghasilkan tiga komoditas utama yaitu biochar, syngas, dan bahan bakar minyak (BBM) setara solar. Biochar yang dihasilkan dapat dikembalikan ke petani Jember untuk memperbaiki struktur tanah persawahan, meningkatkan kesuburan yang sempat terancam oleh limbah. Sementara itu, syngas dan BBM setara solar hasil olahan sampah ini menjadi jawaban atas kebutuhan energi lokal yang semakin meningkat. Inilah manifestasi nyata dari ekonomi sirkular yang dicita-citakan oleh pemerintah pusat.

 

Dengan metode modern pengelolaan sampah ini diharapkan tidak lagi membebani APBD secara cuma-cuma. Dengan optimalisasi unit pengolahan, potensi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor waste to product menjadi sangat terbuka lebar. Penjualan BBM hasil pirolisis dan produk sampingan lainnya memberikan aliran pendapatan baru bagi daerah, yang hasilnya dapat diputar kembali untuk pembangunan infrastruktur desa.

 

Keberhasilan ini diharapkan bisa melahirkan suatu capaian luar biasa yang membuktikan bahwa kepemimpinan yang berani dan inovatif mampu menyelesaikan masalah kronis rakyat. Masalah sampah yang semula dianggap sebagai problematika yang sulit diselesaikan bagi warga Kabupaten Jember, khususnya warga di sekitar TPA Pakusari, kini berubah menjadi berkah dengan terciptasnya lapangan kerja baru di sektor pengolahan dan distribusi produk energi hijau.

 

Penanganan masalah sampah di TPA Pakusari kini menjadi pilot project nasional. Dari kondisi kritis 32 meter yang rawan longsor, kini perlahan lahan-lahan tersebut mulai terkelola secara sistematis. Pemilahan yang dulunya terkendala kini diperkuat dengan sistem mekanisasi yang terintegrasi dengan pabrik pengolahan sampah modern.

 

Kehadiran teknologi ini juga memberikan rasa aman bagi warga. Risiko longsor yang menghantui seperti bayang-bayang kejadian TPA Bantar Gebang kini mulai sirna seiring berkurangnya beban volume sampah secara signifikan setiap harinya. Harapannya Kabupaten Jember dibawah pimpinan Bupati Fawait bisa membuktikan bahwa dengan kemauan politik yang kuat dan dukungan teknologi yang tepat, problematika sampah bukan lagi soal memindahkan masalah, melainkan soal memanen solusi.

 

Sejarah akan mencatat bahwa pada tahun 2026, Jember berhasil lolos dari lubang jarum krisis lingkungan. Transformasi TPA Pakusari adalah bukti nyata sinergi antara visi besar Presiden Prabowo dengan eksekusi taktis Bupati Fawait. Dengan mengolah 1.300 ton sampah per hari menjadi produk sumber energi dan PAD, Jember tidak hanya sedang membersihkan kotanya, tetapi juga sedang membangun fondasi ekonomi masa depan.

 

Kini, rakyat Jember bisa bernapas lebih lega. Udara yang lebih bersih, lahan tani yang terlindungi, dan kemandirian energi dari sampah adalah warisan nyata dari pemerintahan saat ini. Pakusari bukan lagi simbol tumpukan limbah, melainkan monumen kemenangan inovasi atas polusi, menjadikan Jember sebagai kabupaten terdepan dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi di Indonesia.

Penulis adalah pengamat lingkungan dan kontributor media prestasi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA