Menyelami Jejak Leluhur, Cak Sid Gandeng Sesepuh Telusuri Akar Sejarah Desa Biting

waktu baca 3 menit
1056

Jember tak pernah kering dari cerita tentang dedikasi para penjaga budaya dan sejarahnya. Salah satu maestro yang tak hanya dikenal lewat alunan nada, namun juga jejak langkahnya dalam melestarikan kearifan lokal adalah Cak Sid Kyai Samudro. Nama “Kyai Samudro” melekat padanya berkat paguyuban kesenian Gamelan Sholawat yang diampunya, sebuah harmoni spiritual dan budaya yang telah mengukir namanya di kancah seni Jember.

Namun, Cak Sid bukan sekadar seniman, ia adalah seorang penjelajah kebudayaan. Kali ini, inisiatif mulia Cak Sid membawa perhatian kita kepada sebuah proyek penting penelusuran sejarah Desa Biting, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Bukan dengan buku-buku tebal di perpustakaan, melainkan dengan turun langsung, bersilaturahmi ke sesepuh dan tokoh-tokoh tua desa. Cak Sid melakukan penelitian dan penelusuran  Sejarah ini kurang lebih 30 tahun sejak pertengahan Tahun 90an. Beliau merangkum cerita-cerita tutur dari para tokoh tua dan mewujudkannya dalam bentuk Buku tradisional atau yang sering disebut dengan Babad. Babad Biting ini menggunakan penulisan secara tradisional dan berbentuk tembang. Pendekatan ini adalah jembatan emas menuju kekayaan lisan yang tersimpan dalam ingatan kolektif, sebuah sumber sejarah yang tak ternilai harganya.

Membongkar Tabir Asal-Usul Desa Biting

Melalui perbincangan hangat , cerita-cerita tutur masa lampau, dan kenangan yang terukir di wajah para leluhur Desa Biting, Cak Sid berupaya membongkar tabir asal-usul dan akar muasal penduduk desa. Setiap pertemuan adalah gerbang menuju kepingan mozaik sejarah siapa pendiri desa ini? Dari mana mereka berasal? Bagaimana kehidupan mereka terdahulu? Nilai-nilai apa yang mereka pegang teguh? Semua ini adalah pertanyaan krusial yang dicari jawabannya untuk merajut kembali benang merah identitas Desa Biting.

“Ini adalah upaya kita bersama untuk menghormati para pendahulu. Mereka telah meletakkan pondasi, dan tugas kita adalah memahami serta menjaga warisan itu,” tutur Cak Sid, dengan sorot mata penuh semangat membara. “Melalui silaturahmi ini, kita tidak hanya mendapatkan data sejarah, tetapi juga merasakan energi dan semangat perjuangan mereka.”

Buku (Babad) Sejarah yang Ramah Generasi Muda

Yang menarik dari proyek ini adalah output akhirnya. Hasil dari penelitian dan penelusuran sejarah akar Desa Biting ini tidak akan berakhir hanya sebagai arsip. Cak Sid sudah mewujudkannya dalam bentuk buku (babad) yang mudah dibaca dan dipahami dengan tetap menerapkan nilai tradisi serta orisinalitas sejarah. Babad Biting ini bukan sekadar tumpukan kertas, melainkan jembatan waktu yang akan menghubungkan masa lalu dengan masa kini dan masa depan.

Buku (Babad) ini nantinya akan terus disempurnakan sebagai catatan sejarah penting untuk generasi muda Desa Biting. Tujuannya jelas, agar mereka tidak melupakan leluhur pendahulunya, menghargai akar budaya dan sejarah yang membentuk identitas mereka. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang kian deras, inisiatif Cak Sid ini menjadi pengingat bahwa kemajuan peradaban tidak harus mengorbankan akar. Justru, pemahaman akan sejarah adalah fondasi kuat untuk melangkah maju tanpa kehilangan jati diri.

Menjaga Nadi Peradaban Lokal

Langkah Cak Sid ini adalah cerminan dedikasi seorang budayawan sejati. Ia menyadari sepenuhnya bahwa sejarah bukan sekadar deretan tanggal dan nama, melainkan nadi peradaban yang berdenyut dalam setiap denyut kehidupan masyarakat. Dengan menghidupkan kembali kisah-kisah leluhur, Cak Sid tidak hanya mengabadikan sejarah Desa Biting, tetapi juga menyuntikkan semangat penghormatan, identitas, dan kebanggaan pada generasi mendatang.

Ini adalah sebuah ikhtiar mulia untuk memastikan bahwa seiring laju perkembangan zaman, akar sejarah dan budaya Desa Biting tetap terjaga, kokoh, dan menjadi inspirasi bagi kemajuan peradaban yang berlandaskan pada kearifan masa lalu. Cak Sid, melalui paguyuban Gamelan Sholawat “Kyai Samudro” dan penjelajahan sejarahnya, telah membuktikan bahwa seni dan budaya adalah alat ampuh untuk merajut persatuan dan menjaga warisan adiluhung bangsa.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA