Di sebuah hutan yang lebat dan hijau, hiduplah seekor Singa yang gagah perkasa. Dialah Raja Hutan yang disegani semua binatang. Singa punya banyak teman, tapi sahabat terbaiknya adalah seekor Serigala yang lincah dan pandai bicara.
Suatu pagi yang cerah, Singa pergi berburu untuk membawa makanan bagi keluarganya. Tak lama kemudian, ia berhasil menangkap seekor sapi yang sangat gemuk! Wah, pasti keluarganya senang sekali.
Di tengah jalan, Singa bertemu dengan sahabatnya, Serigala. “Hai, Serigala sahabatku!” sapa Singa dengan suara beratnya. “Lihatlah, aku baru saja mendapatkan sapi yang besar ini. Tolong bantu bawakan ke gua keluargaku, ya. Aku harus segera kembali menyiapkan yang lain. Kalau kau tidak mengantarkannya dengan baik, aku akan sangat kecewa dan kamu harus bertanggung jawab!”
Serigala mengangguk setuju, “Tentu saja, Raja Hutan! Serahkan padaku!” Sementara itu, Singa pun pergi dengan tenang.
Kini, Serigala sendirian bersama sapi gemuk itu. Perutnya tiba-tiba berbunyi keroncongan. “Aduh, lapar sekali!” bisiknya pada diri sendiri. “Makan sedikit saja, Singa pasti tak akan tahu. Toh, sapi ini besar sekali!”
Serigala mulai mencicipi daging sapi itu. Sedikit demi sedikit, rasanya begitu lezat sampai ia lupa diri. Ia terus makan dan makan, padahal ia janji akan mengantarkannya untuk keluarga Singa. Tanpa terasa, daging sapi itu habis tak bersisa! Tinggal tulang-tulang saja.
“Astaga!” Serigala terkejut melihat apa yang telah ia lakukan. “Bagaimana ini? Singa pasti marah besar! Aku harus mencari alasan!”
Tanpa ia sadari, dari balik semak-semak, seekor Kancil yang cerdik melihat seluruh kejadian itu. Kancil sedang lewat dalam perjalanan menuju sungai untuk minum.
Serigala yang panik segera berlari menuju gua keluarga Singa. Dengan napas terengah-engah, ia membuat cerita bohong. “Maafkan aku, keluarga Raja Hutan! Aku sudah berusaha sekuat tenaga, tapi sapi itu… sapi itu direbut oleh seekor Beruang yang sangat besar dan galak! Aku bahkan nyaris dimakannya!” Serigala berpura-pura sedih dan ketakutan.
Tak lama kemudian, Singa pulang ke guanya. Ia bertanya kepada keluarganya tentang sapi yang dibawakan Serigala. Keluarga Singa pun menceritakan kisah bohong Serigala tentang Beruang galak.
Tiba-tiba, Kancil muncul dari arah hutan. “Tunggu dulu, Raja Hutan!” seru Kancil dengan lantang. “Serigala sudah berbohong! Bukan Beruang yang memakan sapi itu.”
Serigala terkejut dan marah. “Diam kau, Kancil! Jangan menuduhku sembarangan! Aku akan memakanmu kalau kau terus bicara yang tidak benar!” ancam Serigala, mencoba menakut-nakuti Kancil.
Tapi Kancil tidak takut. “Aku tidak berbohong, Raja Hutan! Aku melihat sendiri Serigala memakan seluruh sapi itu sampai habis! Aku bahkan bisa memanggil beberapa hewan lain yang lewat di sana saat itu, mereka pasti juga melihatnya tanpa Serigala sadari!” kata Kancil dengan jujur.
Serigala menjadi pucat pasi. Ia tahu kebohongannya terbongkar. Tanpa berpikir panjang, Serigala langsung lari sekuat tenaga meninggalkan gua Singa.
Cukup sudah bagi Singa! Ia tahu Kancil mengatakan yang sebenarnya. Singa mengaum dengan marah dan mengejar Serigala. Dengan mudah, Singa berhasil menangkap Serigala.
“Serigala! Kamu telah menghancurkan kepercayaanku! Seorang Raja Hutan tidak akan berteman dengan pembohong!” kata Singa dengan suara bergetar karena kecewa.
Serigala hanya bisa menunduk malu dan menyesali perbuatannya. Ia akhirnya menerima akibat dari kebohongan dan keserakahannya. Sejak hari itu, Serigala belajar pelajaran penting: berbohong itu tidak baik, apalagi kepada sahabat. Kejujuran adalah hal yang paling berharga.
Penulis : Tasya (Siswi SDN Gambangan 1 Maesan Bondowoso)
Editor : Satya Guna Dharma
Tidak ada komentar