Di balik megahnya kibaran Sang Saka Merah Putih di Istana Merdeka pada Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, ada cucuran keringat dan tekad baja putra-putri daerah.
Salah satu cerita perjuangan itu datang dari Rizqy Aditya Siregar, pelajar asal Kabupaten Siak, Riau yang sukses menjalankan amanah besar sebagai anggota Paskibraka Nasional 2026.
Langkahnya bermula dari rasa keberanian untuk mencoba.
Tak pernah terbayang sedikit pun dalam benak Rizqy bahwa keberanian mendaftar seleksi Paskibraka di daerahnya bakal membawa langkah kaki kecil itu melangkah hingga ke halaman Istana Jakarta.
Misi Pelajar Siak Membuktikan Diri
Putra pasangan Muhammad Isnaini Siregar dan Dina Afnita ini menanamkan keyakinan kuat sejak awal proses seleksi.
Meski datang dari daerah, Rizqy menolak merasa kecil hati di hadapan ribuan kompetitor dari berbagai wilayah.
Hasrat untuk membuktikan diri menjadi bahan bakar utamanya saat melewati hari-hari seleksi yang ketat. Ia bertekad memperjuangkan mimpi agar bisa berdiri sejajar dengan putra-putri terbaik dari seluruh penjuru Nusantara.
“Ketika pertama kali mendaftar Paskibraka, saya hanya seorang pelajar asal Siak yang tak pernah membayangkan bakal lolos seleksi Nasional. Tapi selalu saya tanamkan bahwa harus bisa berhasil,” tutur Rizqy penuh rasa syukur.
Keringat, Disiplin, dan Beban Dipundak
Perjalanan menuju panggung tertinggi pengibaran bendera pusaka jauh dari kata mudah.
Latihan fisik yang menguras stamina hingga penggemblengan mental dan kedisiplinan tingkat tinggi menjadi konsumsi hariaannya selama masa karantina.
Rasa lelah tak jarang menghampiri tubuhnya. Namun, Rizqy selalu sadar bahwa ada harapan besar dari keluarga, sekolah, daerah, dan seluruh masyarakat Provinsi Riau yang tertumpang di pundaknya.
“Perjuangannya jujur aja gak mudah. Latihan fisik yang menguras tenaga hingga ditempa kedisiplinan mental itu makanan sehari-hari. Namun, kalau udah mulai capek saya ingat lagi ada nama baik Riau di pundak ini,” ungkap Rizqy.
Dukungan Keluarga dan Cita-Cita Menjadi Tentara
Di balik ketangguhan Rizqy menembus seleksi nasional, ada deretan doa tulus yang terus dilangitkan oleh keluarganya.
Sang ibu, Dina Afnita, mengenang bagaimana putranya yang berusia 17 tahun itu dibesarkan dengan kedisiplinan tinggi, kebiasaan hidup sehat, serta kepribadian yang santun dan berbakti.
Gemblengan fisik melalui aktivitas olahraga dan latihan rutin sejak kecil menjadi modal berharga saat harus menjalani karantina fisik yang berat.
Keberhasilan mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Istana Merdeka pun menjadi jawaban manis atas perjuangan panjang tersebut.
Pengalaman berharga sebagai Paskibraka Nasional ini diharapkan menjadi pijakan awal sekaligus pembuka jalan bagi Rizqy untuk mewujudkan cita-cita besarnya: mengabdi kepada bangsa dan negara sebagai seorang prajurit TNI.
Warisan Ketangguhan bagi Generasi Muda
Selepas menuntaskan tugas pengibaran bendera dengan sempurna, rasa lega membuncah di dada Rizqy.
Kepulangannya ke Riau disambut hangat oleh Pemerintah Provinsi Riau sebagai bentuk apresiasi atas bakti dan perjuangannya di tingkat nasional.
Bagi Rizqy, keberhasilan ini bukanlah akhir, melainkan bekal berharga untuk menempa dirinya menjadi pribadi yang lebih tangguh, disiplin, dan berjiwa nasionalis.
Ia berharap pengalamannya mampu memantik keberanian generasi muda lainnya untuk tak ragu bermimpi besar.
“Proses yang berat gak diciptakan untuk menjatuhkan kita, melainkan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh dan berjiwa nasionalis. Mari terus berkarya, saya yakin kalian pasti bisa juga harumkan nama daerah,” pungkasnya penuh optimisme. (Diolah dari InfoPublik)

