Kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, selalu punya cara untuk menghentikan langkah para pelesir.
Di antara deretan bangunan bergaya neoklasik yang berdiri anggun, ada satu struktur tiga lantai yang menyimpan rekam jejak kemewahan teknologi arsitektur masa lalu.
Gedung yang dahulu bernama De Nederlandsche Indies Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij atau kini dikenal sebagai gedung eks Jiwasraya, berdiri tenang menantang zaman.
Di balik dinding tebalnya, masa lalu tidak sepenuhnya pergi; ia hanya tertidur menunggu ruang baru untuk disapa kembali oleh publik.
Jejak Arsitektur Modern dan Lift Otis yang Unik
Dibangun pada kisaran akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, bangunan ini tergolong sangat modern di zamannya.
Salah satu bukti otentik yang membuat peninggalan Hindia Belanda ini begitu langka adalah keberadaan lift buatan Otis Elevator Company.
Meski kini sudah tak beroperasi, sangkar baja pembawa penumpang itu masih berdiri utuh di dalam gedung.
Kehadirannya menjadi saksi bisu bagaimana perkembangan teknologi modern pertama kali menginjakan kakinya di kota pelabuhan ini.
Penyelamatkan Cagar Budaya Melalui Ruang Publik
Merapikan dinding tua tentu tak cukup sekadar mengecat ulang.
Agar nilai sejarahnya tidak sirna diterpula zaman, sebuah cagar budaya membutuhkan kehidupan di dalamnya—sebuah fungsi baru yang memberi manfaat langsung bagi warga dan wisatawan.
Rencana mengalihfungsikan gedung eks Jiwasraya menjadi ruang kebudayaan publik, seperti museum fotografi, menjadi angin segar bagi pelestarian kawasan Kota Lama.
Penyelamatan fisik bangunan kini berjalan seiring dengan pemanfaatan ruang edukasi.
Membangkitkan Memori Kolektif Kota Lama
Langkah menghidupkan kembali gedung eks Jiwasraya dipandang sebagai upaya strategis untuk menyelamatkan bangunan bersejarah dari keterlantaran.
Dalam kunjungannya pada 28 Agustus 2026 di Semarang, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan pentingnya pemanfaatan nyata bagi bangunan cagar budaya.
“Kita berharap dalam rangka pemanfaatan gedung-gedung cagar budaya, gedung ini bisa menjadi satu museum, semacam museum fotografi, atau pemanfaatan yang lain sehingga ini bisa terselamatkan,” ujar Menbud Fadli Zon saat meninjau kondisi gedung.
Kehadiran museum fotografi kelak diharapkan dapat mempertemukan para pencinta seni, sejarah, dan masyarakat umum dalam satu arena belajar yang menyenangkan.
Gedung eks Jiwasraya tidak lagi hanya diam mematung, melainkan aktif menceritakan kisahnya kepada generasi mendatang. (Diolah dari Kementerian Kebudayaan)

