Di bawah naungan pepohonan rindang di kawasan Sumur Mojo, riuk kegembiraan warga Desa Sobontoro membubung ke udara.
Aroma harum tanah basah menyatu dengan warna-warni komoditas pertanian segar—mulai dari untaian kacang panjang, merahnya cabai, hingga bulatnya tomat—yang disusun menggunung setinggi dada.
Bagi masyarakat agraris di Kecamatan Balen, Bojonegoro, Jawa Timur, ini, alam bukan sekadar tempat merengkuh rezeki, melainkan ruang hidup yang senantiasa patut disyukuri.
Gema rasa syukur itu terwujud nyata dalam ritus tahunan yang diwariskan turun-temurun.
Melalui tiga pilar tradisi: gunungan hasil bumi, doa sedekah bumi, dan ritme rancak Seni Oklik, warga dari berbagai generasi berkumpul merajut kembali tali kebersamaan dan merawat identitas budaya desa.
Puncak Syukur dan Wujud Kedekatan dengan Alam
Arak-arakan gunungan hasil pertanian menjadi simbol betapa pemurahnya tanah yang mereka pijak.
Setiap hasil panen yang diusung warga menceritakan ketekunan para petani Sobontoro dalam mengolah lahan.
Tradisi sedekah bumi ini tak hanya memanjatkan doa keselamatan, kesehatan, dan panjang usia, melainkan juga menegaskan kedekatan emosional masyarakat dengan lingkungan sekitar.
Kegiatan di pelataran sakral Sumur Mojo ini sekaligus menjadi ruang interaksi sosial antarwarga, menanggalkan sekat usia untuk bersama-sama menikmati berkah bumi Bojonegoro.
“Gunungan menunjukkan bahwa hasil bumi masyarakat Desa Sobontoro sangat baik. Ini tentu menjadi sesuatu yang patut kita syukuri, karena tanah yang kita miliki mampu menghasilkan berbagai komoditas pertanian,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Elzadeba Agustina, di Sumur Mojo, Jumat (28/8/2026).
Gemuruh Seni Oklik, Kebanggaan Takbenda Nusantara
Suasana ritual terasa kian magis ketika alunan Seni Oklik mulai ditabuh.
Dentuman irama kayu bernada khas yang dipadu alunan musik tradisional ini tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan benteng pertahanan kebudayaan lokal di tengah gempuran modernisasi.
Bukan tanpa alasan warga Sobontoro begitu bangga memamerkan kesenian ini.
Kesenian Oklik kini telah resmi mengantongi predikat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Kementerian Kebudayaan, menegaskan posisinya sebagai identitas bernilai tinggi.
“Seni Oklik merupakan salah satu kekayaan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat. Kesenian ini bahkan telah mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Kementerian Kebudayaan,” tegas Elzadeba pada Jumat (28/8/2026).
Langkah kaki anak-anak muda yang ikut memeriahkan ritus ini memberi tanda optimistis.
Selama gunungan hasil bumi masih diarak dan tabuhan Oklik masih bergema di Sumur Mojo, kearifan lokal Desa Sobontoro akan terus bersemi, menjaga denyut kebudayaan Bojonegoro hingga masa-masa mendatang. (Diolah dari InfoPublik)

