Derak roda kayu dan gemerincing genta kuda memecah kesibukan jalanan Banyuwangi setiap menjelang pertengahan bulan Syawal.
Di atas dokar berhias ornamen warna-warni, para kusir dari Kelurahan Boyolangu tegak memegang tali kendali.
Mereka tidak sedang melayani penumpang umum, melainkan sedang menunaikan janji suci lintas generasi yang telah terikat ratusan tahun silam melalui tradisi Puter Kayun.
Bagi masyarakat Boyolangu, Puter Kayun bukan sekadar pawai kendaraan hias seremonial. Ritual ini adalah bentuk napak tilas dan penunaian janji keturunan kepada sang leluhur, Ki Buyut Jakso.
Syahdan, sosok sakti inilah yang dipercaya berhasil membongkar gundukan batu raksasa penghalang jalan raya utara atas permintaan pemerintah kolonial—peristiwa bersejarah yang kelak melahirkan nama kawasan ikonik Watu Dodol (batu yang dibongkar).
Lima Dekade Kesetiaan di Atas Dokar Hias
Napas tradisi ini dihidupi oleh figur-figur seperti Abdul Mufid (65). Menggenggam cambuk dokar sejak tahun 1971, Mufid adalah saksi hidup yang konsisten merawat napak tilas ini selama lebih dari setengah abad.
Dahulu, mayoritas warga Boyolangu menggantungkan hidup sebagai kusir, menjadikan dokar sebagai sarana paling terhormat untuk sowan ke makam dan lokasi bersejarah leluhur.
Meski zaman berganti dan ritme jalanan makin padat oleh kendaraan bermotor, semangat para kusir tak pernah surut.
Ketika jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang mengalami kemacetan parah, rute perjalanan dengan fleksibel disesuaikan tanpa merusak esensi ritual.
Warga pengiring yang biasanya menggunakan mobil pun tak segan beralih menunggangi sepeda motor demi mengawal dokar-dokar hias tersebut.
Rangkaian Budaya Penjaga Ekosistem Tradisi
Eksistensi Puter Kayun juga disokong oleh ekosistem kebudayaan yang mengakar kuat.
Sebelum parade dokar dilepas pada 10 Syawal, masyarakat Boyolangu telah memulainya dengan ritual Lebaran Kopat (selamatan ketupat bersama) pada 7 Syawal, disusul tradisi magis Kebo-keboan pada 9 Syawal.
Kombinasi antara mitologi lokal, ketangguhan kusir tua, dan sinergi warga desa membuktikan bahwa kearifan lokal Banyuwangi mampu bertahan melintasi jaman.
Puter Kayun tak hanya memperkuat identitas kultural masyarakat pesisir timur Jawa, tetapi juga menjelma menjadi pementasan budaya yang memikat wisatawan dari berbagai penjuru. (Foto/Sumber:Infopublik)

