Di balik dinding-dinding pondok pesantren yang tenang, tempat lantunan bait-bait kitab kuning menggema setiap harinya, sebuah babak baru pendidikan berbasis teknologi sedang dirajut.
Di tempat-tempat inilah, karakter dan akhlak generasi penerus bangsa ditempa oleh ketulusan para kiai yang namanya kerap tak pernah tersorot kamera.
Kini, secercah harapan baru hadir membawa angin segar bagi modernisasi pendidikan berbasis keagamaan di Tanah Air.
Langkah besar itu bermula dari sebuah pengakuan jujur dalam pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Saat menyampaikan sambutan pada Kamis (27/8/2026), Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk menghapus jurang pemisah fasilitas belajar antara sekolah umum dan madrasah.
“Saya mau minta maaf kepada Nahdlatul Ulama. Minta maaf karena saya baru tahu bahwa layar interaktif panel, banyak sekolah-sekolah, pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama yang belum menerima,” kata Presiden Prabowo.
Seluruh ruang kelas di sekolah-sekolah Nahdlatul Ulama dipastikan bakal dipasangi fasilitas interactive flat panel atau layar interaktif mutakhir.
Menghapus Ketimpangan di Ruang Kelas
Selama ini, modernisasi sarana belajar sering kali identik dan hanya menyentuh sekolah-sekolah negeri di kawasan perkotaan.
Padahal, ribuan madrasah dan pesantren yang dikelola secara swadaya oleh warga NU menjadi benteng terdepan dalam menjaga moralitas anak-anak bangsa.
Penyelenggaraan fasilitas digital ini menjadi sinyal kuat bahwa santri di pelosok daerah berhak mendapatkan sarana belajar terdepan yang setara.
Langkah penyetaraan ini kian diperkuat oleh komitmen Kementerian Agama melalui pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren.
Kehadiran unit khusus ini memastikan bahwa perhatian negara—mulai dari tata kelola kelembagaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga pengadaan infrastruktur digital—dapat tersalurkan secara lebih terarah, tepat sasaran, dan berkelanjutan.
Penghormatan untuk Pengabdi Sunyi
Sentuhan teknologi ini pada hakikatnya adalah bentuk apresiasi nyata bagi para kiai dan ulama yang terus berkhidmat di tengah masyarakat.
Kehadiran papan tulis digital di dalam kelas tidak akan mengikis kekhasan tradisi pesantren, melainkan memperkaya metode mengajar agar para santri mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar spiritualnya.
Ketika layar-layar interaktif itu kelak menyala di bilik-bilik kelas sekolah NU, ia bukan sekadar memancarkan cahaya teknologi.
Di dalamnya, menyala pula semangat baru tentang keadilan pendidikan: bahwa setiap anak bangsa, di mana pun mereka menimba ilmu, berhak mengejar cita-cita dengan fasilitas terbaik yang dimiliki negerinya. (Diolah dari Kemenag)

