Site icon PRESTASI

Kisah Manuskrip Syair Perang Siak: Penjaga Jati Diri Melayu dari Riau

Manuskrip kuno Syair Perang Siak (W 273) yang merekam sejarah Kesultanan Siak Sri Indrapura kini direkomendasikan masuk dalam Ingatan Kolektif Nasional (IKON) 2026 oleh Perpusnas. Foto: InfoPublik

Larik-larik bait kuno itu pernah menjadi saksi bisu bagaimana keberanian dan strategi berpadu di tanah Melayu.

Berdiri di balik lembaran lusuh berpena tinta sejarah, Syair Perang Siak—atau yang dikenal dalam dunia filologi sebagai Manuskrip W 273—bukan sekadar himpunan kata.

Ia adalah denyut nadi perjalanan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang merekam jejak perjuangan dan jati diri masyarakatnya.

Kini, deretan bait legendaris tersebut bersiap melangkah ke panggung kehormatan yang lebih luas.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) merokomendasikan naskah kuno ini sebagai salah satu kandidat Ingatan Kolektif Nasional (IKON) 2026, menjadikannya satu dari 11 naskah Nusantara terpilih yang dinilai memiliki nilai historis amat berharga.

Menjaga Nafas Sejarah Kesultanan Siak

Pengakuan di tingkat nasional ini menyalakan kembali kebanggaan warga di sepanjang pesisir Sungai Siak.

Masuknya manuskrip ini mempertegas posisi Siak sebagai salah satu benteng dan pusat peradaban kebudayaan Melayu yang kaya akan warisan intelektual.

Bagi masyarakat setempat, lembaran syair ini tidak hanya bercerita tentang pertempuran di masa lampau, tetapi juga mewariskan nlai-nilai ketangguhan.

Sejarah yang tertulis di dalamnya menjadi cermin bagi generasi hari ini untuk mengenal kembali akar kebudayaan mereka.

“Naskah ini bukan hanya catatan sejarah, tapi juga jati diri dan semangat perjuangan masyarakat Siak,” ujar Bupati Siak Afni Zulkifli pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Menghidupkan Kembali Memori yang Tertidur

Perpusnas menegaskan bahwa predikat Ingatan Kolektif Nasional tidak sekadar dibagikan karena sebuah naskah berusia tua atau langka.

Lebih dari itu, penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan atas nilai warisan dokumenter yang merekam pengalaman, pengetahuan, dan identitas perjalanan bangsa.

Tantangan terbesar setelah penetapan ini adalah memastikan bahwa pengetahuan di dalam naskah tersebut tidak kembali tertidur di dalam lemari kaca.

Upaya pelestarian perlu dilanjutkan melalui kajian akademis, digitalisasi manuskrip, hingga pengenalan materi di bangku sekolah agar dapat diakses secara luas oleh publik.

“Warisan sejarah tidak cukup hanya disimpan. Pengetahuan dan nilai yang terkandung di dalamnya perlu dihidupkan kembali melalui kajian, pendidikan, digitalisasi, serta akses yang lebih luas bagi masyarakat,” kata Afni menambahkan.

Sejajar dengan Warisan Dokumenter Nusantara

Rekomendasi yang diraih Syair Perang Siak menempatkan warisan dokumenter dari Riau ini bersandingan dengan naskah-naskah tersohor Nusantara lainnya.

Mulai dari karya Skriptorium Merapi-Merbabu, Babad Besuki, Cerita Aji Saka, hingga Hukum-Hukum Pelayaran Amanna Gappa.

Pengumuman resmi penganugerahan ini rencananya akan disampaikan tepat pada Peringatan Hari Kunjung Perpustakaan, 15 September 2026.

Momentum ini menjadi titik awal baru bagi naskah kuno Siak untuk terus dipelajari, dicintai, dan diwariskan kepada penerus bangsa. (Diolah dari InfoPublik)

Exit mobile version