Site icon PRESTASI

Intervensi Pendidikan Dikbud Gorontalo Wujudkan Akses Belajar, Cegah Stunting, dan Literasi Digital

Intervensi pendidikan di Desa Langge, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango. (foto PPID)

Intervensi pendidikan di Desa Langge, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo dibuktikan tidak selalu harus berawal dari dalam ruang kelas.

Melalui kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pemenuhan enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM) desa, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Gorontalo menghadirkan layanan pendidikan terpadu yang langsung menyasar kebutuhan dasar masyarakat di tingkat tapak.

Program ini memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap memiliki akses belajar yang berkelanjutan, sekaligus membekali para remaja dengan pemahaman pola hidup sehat guna mencegah stunting.

Tak hanya itu, pendekatan pendidikan berbasis Posyandu ini juga diarahkan untuk membangun karakter serta menyiapkan generasi muda desa agar cakap digital dan siap beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Langge merupakan salah satu desa piloting atau percontohan  pemenuhan enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang didorong oleh Tim Pembina Posyandu Provinsi Gorontalo.

“Dalam ekosistem tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Gorontalo mengambil peran sebagai salah satu perangkat daerah pengampu urusan yang berkaitan dengan pemenuhan SPM,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Gorontalo, Sudarman Samad, dikutip dari InfoPublik, Selasa (8/8/2026).

Menurut Sudarman, peran tersebut juga menjadi bagian dari implementasi Permendagri Nomor 13 Tahun 2024 tentang Pos Pelayanan Terpadu, yang mendorong pelayanan dasar dilakukan secara terpadu dan menyentuh kebutuhan masyarakat.

Salah satu bentuk intervensi diwujudkan melalui bantuan tas sekolah bagi siswa SMA dari keluarga kurang mampu yang tersebar di lima desa piloting. Bantuan tersebut merupakan dukungan dari Jasa Raharja yang disalurkan melalui program intervensi pendidikan.

Bagi Dikbud Gorontalo, bantuan tersebut bukan semata-mata persoalan sebuah tas sekolah. Di balik bantuan sederhana itu terdapat pesan bahwa keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang bagi anak untuk memperoleh dan melanjutkan pendidikan.

Sementara itu Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Gorontalo Nani Ismail Mokodongan, memberikan apresiasi terhadap dukungan lintas sektor dalam pelaksanaan program tersebut.

“Bantuan ini tentu bukan hanya sekadar sebuah tas sekolah. Lebih dari itu, ini merupakan bentuk kepedulian kita terhadap keberlanjutan pendidikan anak-anak di desa,” ujar Nani dalam sambutannya.

Intervensi Dikbud Gorontalo tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan perlengkapan sekolah. Pendekatan yang dibangun juga diarahkan pada penguatan kualitas sumber daya manusia sejak usia remaja.

Karena itu, penguatan diberikan kepada remaja putri dan putra usia pendidikan menengah.

Mereka tidak hanya didorong untuk memiliki prestasi akademik, tetapi juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan, membangun kebiasaan hidup sehat, memiliki karakter positif, serta mampu mengambil keputusan yang baik bagi masa depannya.

Sudarman menegaskan bahwa intervensi pendidikan perlu melihat anak dan remaja secara utuh.

“Kami ingin intervensi pendidikan benar-benar menyentuh kebutuhan anak dan remaja. Mereka perlu didampingi agar tumbuh sehat, memiliki karakter yang baik, sekaligus memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

Penguatan kepada remaja juga berkaitan dengan upaya pencegahan stunting.

Remaja perlu memahami bahwa kesehatan, pola hidup, pengetahuan, karakter, dan keputusan yang mereka ambil hari ini akan berpengaruh terhadap kualitas kehidupan mereka di masa depan, termasuk ketika memasuki usia berkeluarga.

Dengan demikian, pencegahan stunting merupakan bagian dari investasi pendidikan jangka panjang.

Remaja yang sehat, memahami gizi dan kesehatan, serta memiliki kesiapan membangun kehidupan keluarga yang sehat menjadi bagian penting dalam upaya memutus mata rantai persoalan gizi antargenerasi.

Tiga Lapis Intervensi Pendidikan

Implementasi enam SPM melalui Posyandu membuka ruang bagi pendidikan untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat. Di Desa Langge, intervensi pendidikan diarahkan pada tiga aspek utama.

Pertama, memastikan keberlanjutan akses pendidikan.

Bantuan perlengkapan sekolah menjadi salah satu bentuk dukungan konkret agar keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang anak untuk tetap bersekolah.

Kedua, membangun kualitas dan karakter remaja.

Penguatan diarahkan pada perilaku hidup sehat, kecakapan mengambil keputusan, pengembangan karakter, serta kesadaran mengenai peran mereka sebagai generasi penerus dan calon orang tua di masa depan.

Ketiga, menyiapkan generasi muda yang adaptif terhadap transformasi digital. Dikbud Gorontalo melalui satuan pendidikan SMK, khususnya kompetensi keahlian di bidang informatika, membuka peluang untuk memberikan penguatan literasi digital kepada masyarakat dan remaja di Desa Langge.

Exit mobile version