Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) menggelar simulasi kesiapsiagaan menghadapi ancaman pandemi baru atau “Penyakit X” melalui Tabletop Exercise (TTX) bertajuk Misi 100 Hari di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Simulasi yang berlangsung selama dua hari tersebut menguji kecepatan respons nasional dalam mengembangkan dan memproduksi vaksin dalam waktu 100 hari sejak patogen baru teridentifikasi.
Lebih dari 120 pakar dari kementerian/lembaga, akademisi, industri, lembaga penelitian, hingga otoritas regulasi terlibat dalam simulasi tersebut.
Para peserta menguji respons terhadap skenario fiktif wabah “Nipah-X”, patogen mutasi yang digambarkan dapat menular cepat dari hewan ternak ke manusia melalui kontak langsung, kemudian menyebar antarmanusia dan berpotensi menyebabkan pandemi.
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin menegaskan, kesiapsiagaan menghadapi pandemi harus dipandang sebagai bagian dari investasi pertahanan negara.
Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa wabah penyakit dapat menimbulkan dampak besar terhadap populasi dunia.
“Pandemi telah merenggut lebih banyak nyawa daripada perang. Wabah Black Death diperkirakan membunuh sekitar 200 juta orang, lebih banyak daripada korban Perang Dunia II. Karena itu, kita harus berinvestasi dalam kesehatan layaknya pertahanan untuk menyelamatkan nyawa,” ujar Menkes Budi dikutip dari InfoPublik.
Menurut Budi, Misi 100 Hari merupakan target global untuk memangkas waktu pengembangan vaksin agar respons vaksin dapat dilakukan sedini mungkin dan mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut.
Untuk mengejar target tersebut, Indonesia tengah mengintegrasikan ekosistem deteksi dini, mulai dari pengembangan perangkat uji cepat portabel atau Point-of-Care Testing (POCT) di layanan primer hingga peningkatan kapasitas sekuensing genom di berbagai daerah.
Penguatan kesiapan juga dilakukan dari sisi produksi. Pemerintah menggandeng produsen vaksin nasional, antara lain PT Bio Farma, PT Etana Biotechnologies Indonesia, dan PT Biotis Pharmaceuticals, agar mampu melakukan manufaktur dalam skala besar ketika terjadi pandemi.
Memperkuat Ketahanan Kesehatan Regional
Direktur Utama CEPI Dr. Richard Hatchett menilai Indonesia memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan kesehatan regional.
Menurutnya, kemajuan riset, manufaktur, dan sistem regulasi di Indonesia dapat mendukung pencapaian target Misi 100 Hari.
“Indonesia adalah mitra strategis CEPI. Latihan simulasi seperti ini membantu membangun hubungan dan kesiapan operasional, serta mengidentifikasi celah yang harus ditutup agar respons terhadap wabah berikutnya bisa jauh lebih cepat,” kata Hatchett.
Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar memastikan percepatan pengembangan vaksin darurat tetap mengutamakan keselamatan pasien.
BPOM, kata Taruna, tengah mematangkan skema persetujuan bersyarat sebagai pelengkap mekanisme Persetujuan Penggunaan Darurat (Emergency Use Authorization/EUA).
“Percepatan inovasi tetap harus berjalan seiring dengan pemenuhan standar keamanan, mutu, dan khasiat. Percepatan tidak boleh berarti berkompromi terhadap standar tersebut,” tegas Taruna.
Simulasi Misi 100 Hari ini menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga di dunia, setelah Korea Selatan dan Rwanda, yang menguji secara langsung rantai respons pandemi secara menyeluruh bersama CEPI, mulai dari biosurveilans hingga distribusi logistik medis.

