Site icon PRESTASI

Game Tangga Tangguh Bencana: Cara Seru Latih Anak Siaga Bencana

nak-anak antusias mengikuti edukasi kebencanaan melalui permainan Tangga Tangguh Bencana (Tata). Foto: InfoPubik

Langkah demi langkah di atas papan permainan berwarna-warni ditelusuri anak-anak sekolah dasar usai melempar dadu raksasa di tangan mereka.

Tak berselang lama, gelak tawa dan teriakan gembira pun pecah membahana di sudut desa tersebut.

Namun, ini bukan sekadar permainan ular tangga biasa. Di balik setiap petak, tersimpan pelajaran berharga tentang cara bertahan hidup saat bencana menerjang.

Papan permainan interaktif bernama Tangga Tangguh Bencana (Tata) atau game tangga tersebut lahir dari kepedulian mendalam anak-anak muda Aceh.

Merekalah Marini Koto bersama rekannya, Raisyah Siti Hafifah dan Rani Mauizzah, mahasiswi FISIP Universitas Syiah Kuala (USK) yang gelisah melihat minimnya literasi kebencanaan di kalangan generasi muda lokal.

Mengubah Trauma Menjadi Wahana Belajar

Sebagai daerah yang berada di garis rawan bencana, Aceh memikul ingatan kolektif tentang gempa dan tsunami.

Namun, menyampaikan materi mitigasi yang terkesan berat dan menakutkan kepada anak-anak bukanlah perkara mudah. Pendekatan doktrin formal sering kali membosankan dan justru memicu kecemasan.

Lewat permainan Tata yang memadukan konsep ular tangga dan monopoli, anak-anak diajak mengenali tanda-tanda alam secara alami.

Melalui gambar dan kartu informasi, mereka belajar merespons tujuh jenis bencana sekaligus: gempa, longsor, tornado, kebakaran, banjir, abrasi pantai, hingga tsunami.

Tantangan dan Cita-Cita Mahasiswi Lokal

Inovasi ini berawal dari ingatan dan pengamatan Marini Koto saat melihat masih banyaknya anak-anak di sekitarnya yang gagap menghadapi situasi darurat.

Bersama dosen pembimbingnya, Uswatun Nisa dan Cut Lusi Chairun Nisak, ide sederhana tersebut dimatangkan sejak akhir tahun 2023 hingga akhirnya dapat dimainkan secara langsung oleh anak-anak sekolah dasar.

Cita-cita Marini dan tim tidak berhenti di Desa Krueng Anoi.

Mereka memimpikan papan permainan ini dapat diproduksi secara massal dan tersebar di seluruh pelosok sekolah dasar di Aceh, bahkan Indonesia, sebagai modul standar pembelajaran muatan lokal.

Bergandeng Tangan Mendampingi Pemain Tangguh

Dalam setiap sesi permainan, anak-anak dibagi ke dalam beberapa tim kecil.

Setiap kelompok didampingi oleh relawan dari Komunitas Senyum Anak Nusantara (SAN) Chapter Aceh dan UKM Fastana USK.

Pendamping bertugas menjelaskan maksud dari setiap kartu bencana yang didapat anak-anak saat mendarat di petak tertentu.

Anak-anak yang berhasil menyelesaikan permainan hingga garis akhir dianugerahi julukan sebagai “Pemain Tangguh”.

Julukan ini bukan sekadar gelar permainan, melainkan simbol bahwa mereka kini telah mengantongi pengetahuan dasar untuk menyelamatkan diri dan kawan-kawannya.

“Permainan Tata merupakan metode interaktif yang tepat untuk menumbuhkan kesadaran anak-anak dalam meminimalisir risiko bencana. Kami akan terus melakukan pengembangan agar proyek ini dapat berkontribusi luas bagi masyarakat,” ujar Uswatun Nisa, Akademisi FISIP USK.

Menanam Benih Ketangguhan Sejak Dini

Langkah kecil dari sebuah desa di Aceh Besar ini menjadi bukti bahwa edukasi keselamatan tidak harus selalu bernuansa kaku atau menakutkan.

Di tangan para kreator muda, pengetahuan kebencanaan yang krusial berhasil dikemas menjadi petualangan yang menyenangkan.

Melalui lemparan dadu dan langkah-langkah kecil di atas papan permainan Tata, benih-benih kesiapsiagaan sedang disemaikan.

Generasi masa depan Aceh tak lagi hanya menjadi korban ketidakberdayaan alam, melainkan tumbuh menjadi pribadi yang tanggap, tangguh, dan siap siaga. (Diolah dari InfoPublik)

Exit mobile version