Site icon PRESTASI

Budaya Bali Paling Populer dan Lestari Hingga Saat Ini

1. Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan menjadi salah satu hari besar agama Hindu yang menjadi tradisi hingga saat ini.

Dalam perayaannya, mereka memasang banyak penjor sebagai hiasan di tepi jalan.

Perayaan Hari Raya Galungan sendiri dilakukan setiap 6 bulan sekali.

Makna perayaan ini adalah sebagai bentuk syukur atas kemenangan Dharma melawan Adharma.

Maka dari itu, para umat Hindu di Bali saat momentum ini akan melakukan persembahan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan Dewa Bhatara.

Rangkaian acaranya terdiri dari Tumpek Wariga, Sugihan Jawa, Sugihan Bali, Hari Penyekeban, Hari Penyajan, Hari Penampahan, sampai pada Hari Raya Galungan.

2. Melasti

Melasti merupakan ritual ibadah untuk menyambut hari raya Nyepi.

Sebelum merayakan hari raya Nyepi, para umat Hindu melaksanakan upacara Melasti yang merupakan ritual penyucian diri.

Ritual tersebut dilaksanakan di pura yang dekat dengan sumber air kehidupan, seperti laut, danau, maupun sungai.

Sebelumnya, para umat Hindu terlebih dulu melaksanakan sembahyang yang dipimpin oleh Romo dan Pinandita.

Mereka akan memimpin doa dan membacakan kitab untuk seluruh umat Hindu.

Makna dari tradisi ini adalah untuk menghanyutkan segala kotoran atau dosa dalam diri manusia menggunakan air suci.

3. Upacara Ngaben

Tradisi yang selanjutnya ini sudah banyak diketahui oleh masyarakat luar Bali. Ngaben merupakan upacara pembakaran jenazah di Bali yang dilakukan sebelum mengantarkan orang meninggal ke peristirahatan terakhirnya.

Upacara ini sendiri memiliki beberapa tipe upacara, di antaranya adalah Mitrayadnaya, Pranawa, dan Swasta.

Tujuannya adalah untuk mengembalikan roh yang sudah meninggal ke alam asalnya dengan lebih cepat daripada menguburkan biasa di dalam tanah.

4. Upacara Mekare-Kare

Disebut juga sebagai Perang Pandan, Upacara Makare-Kare dilakukan setiap tahunnya di Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali.

Upacara ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Indra dan juga para leluhur.

Disebut dengan Perang Pandan sebab tradisi ini menggunakan senjata pandan berduri sebagai propertinya.

Kemudian, pandan berduri tersebut dipotong dengan ukuran yang sama lalu diikat seperti sebuah gada atau senjata perang.

Tradisi akan dimulai dengan upacara memohon keselamatan, lalu kedua peserta akan saling menyerang dengan diiringi tabuhan gamelan.

5. Pengerupukan

Dilaksanakan sehari sebelum Nyepi, tradisi Pengerupukan bertujuan untuk mengusir Bhuta Kala yang merupakan simbol kejahatan.

Tradisi ini dilakukan dengan menyebar nasi tawur, lalu menyebarkan asap obor ke rumah dan pekarangan serta memukul benda yang menghasilkan bunyi gaduh.

Tradisi ini biasanya juga dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh sebagai perwujudan Buta Kala.

Exit mobile version